![]() |
| Lokasi Lahan Sawit di Daerah Kendawangan |
Kami bisa memukul gendang dan gamelan
Kami bisa meracik reramuan tanda penghormatan
Kami bisa memberikan polesan tanaman-tanaman lokal
Membuat segalanya terasa indah
Seindah Putri dari kayangan,
Lebih indah dari petikan gitar dan piano
Juga sepucuk tumbuhan yang tak berkawan
Keindahan itu telah sirna
Sirna ditelan tangan dan kaki besi
Tangan kotor tapi tanpa rasa malu
Membersihkan dan menghilangkan jejak ini
Kami dibuatnya tak berdaya
Tak berdaya dirumah kami sendiri
Sebab ada para mesin-mesin bersenjata
Membuat kami seperti para tawanan
Tawanan dari tuan mereka
Tuan yang pernah memberikan janji
Janji yang penuh dengan misteri
Janji yang malah mencoba mengusir kami
Membuat kami menjadi hamba
Hamba yang tak berdaya
Hamba yang menjadi peminta-minta
Hamba yang tak dipedulikan Tuannya
![]() |
| Rumah Pertemuan Bina Utama Payak Kumang |
Maka, masih menyisakan kepemilikan tersebut dalam sistem pengelolaan Tembawang Masyarakat Suku Dayak umumya. Hal ini mengartikan bahwa tempatnya yang ada tembawang tersebut adalah sebagai situs terakhir Suku Dayak umumnya. Karena, di tempat yang ada Tembawang tersebut pernah hidup sekelompok manusia dalam rumah betang ataupun kampung lama dulunya. Tembawang ini yang menjadi kepemilakan bersama oleh kelompok masyarakat. Kemudian, ketika itu dijual atau ditukar dengan barang lainnya menjadikan ini milik individu tertentu.
Berangsur-berangsur konsep yang ada seperti ini semakin hilang, dari rumah betang yang manusianya masih hidup berkelompok sampai pada bangunan-bangunan individu ataupun kepemilikan perorangan yang ada sampai sekarang. Disini mulai ada pengikisan kebersamaan yang dibangun oleh masyarakat yang ada di sekitar ataupun di lingkungannya terlepas sudah tidak hidup dirumah betang lagi seperti dulu kala.
Dulu, sekitar 20 tahun kebelakang kolektifitas seperti ini masih bisa terlihat antar warga satu sama dengan yang lainnya. Semisal, ketika tidak ada Cabai ataupun barang makanan lainnya kita boleh ngambil atau minta ditempat orang yang lainnya tanpa harus membayar sepeserpun. Hal ini terjadi secara bergulir, ketika orang lain tidak punya dan yang satunya punya maka saling berbagi satu sama dengan yang lainnya. Kalau misalnya ada yang dapat Lauk hasil buruan, yang lainya dapat bagian juga.
Jadi, yang perlu dipertahankan dan dijaga sekarang adalah situs terakhir (Tembawang) yang dimiliki oleh Suku Dayak tersebut. Karena, kalaulah situs terakhir ini sudah tidak ada lagi atau hilang maka identitas masyarakat akan lenyap. Kehidupan Sosial, Budaya bahkan Ekonomi yang terkandung di dalam Tembawang tersebut juga akan hilang. Maka, perlu untuk dipertahankan sistem Tembawang Masyarakat ini. Semoga sekelumit tulisan ini memberikan sumbangan serta manfaat bagi kehidupan manusia yang ada di Negeri ini.
![]() |
| Ilustrasi Laman Tembawang |
Sederhana memang, tindakan yang dilakukan dalam meng-Copy tulisan orang ataupun karya orang kita tidak perlu harus buang-buang waktu, tenaga, dan juga pikiran kita untuk membuat tulisan yang seperti yang kita inginkan tapi cukup meng-Copy tulisan orang lain saja. Anggapannya, hal ini kalau dilakukan tidak akan diektahui, kalaupun diketahui pasti tidak akan ada sanksinya. Namun, ada hal yang perlu dikaji bahwa tindakan demikian sama dengan tindakan pencuri. Karena, kita memakai karya orang lain tanpa diketahui oleh orang yang bersangkutan. Ada kode etik yang juga mengatur soal perilaku seseorang yang melakukan tindakan yang demikian.
Kita bisa merasakan sendiri bagaimana rasanya kalau tulisan kita ataupun karya kita dijiplak oleh orang lain, pasti rasanya sakit sekali. Tentunya yang paling tidak baik adalah, hal semacam itu sangat merugikan orang lain. Tindakan semacam ini tidak bisa diterima oleh orang lain, tidak akan disenangi oleh orang lain. Seperti yang terjadi pada Dosen Universitas Gajah Mada Anggito Abimanyu beberapa waktu yang lalu. Atas tindakannya melakukan Plagiarisme, karena menjiplak artikel milik orang lain membuatnya harus resign dari pekerjaannya sebagai Dosen. Baca juga http://www.thejakartapost.com/news/2014/02/18/plagiarism-forces-anggito-resign.html.
Ini bentuk ganjaran yang diterima oleh seseorang yang melakukan tindakan Plagiarisme atau Copy Paste tersebut. Walaupun dalam implementasinya tidak dengan sengaja atau bisa saja karena hanya mirip-mirip, apalagi dilakukan dengan unsur kesengajaan. Pasti akan ada ganjaran yang diberikan oleh seseorang yang melakukan tindakan Copy Paste tersebut. Banyak lagi contoh-contoh yang mana hal semacam ini tidak perlu untuk ditiru. Lihat berita berikut ini: http://www.tempo.co/read/news/2014/02/18/078555420/8-Kasus-Plagiat-yang-Menghebohkan-Indonesia/1/0.
Jadi, jangan coba-coba melakukan aksi pembunuhan dalam dunia Ilmu Pengetahuan dengan melakuna Copy Paste. Dan, ini juga tidak ada untungnya melakukan tindakan COPY PASTE (COPAS) hanya untuk sesuatu yang mungkin cukup berharga bagi kita. Toh, kalau kita yakin bahwa kita bisa melakukannya dengan pemikiran kita sendiri, dengan karya kita sendiri, penghargaan sebesar apapun merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi kita. Orang hebat sekalipun memulainya setahap demi setahap, hingga bisa mempunyai karya yang begitu besar.
Dengan demikian kita wajib memberikan pernyataan SAY NO TO COPAS. Oleh karena itu, mari kita Berantas Blogger Copas. Bagi Anda yang ingin memiliki nama domain sendiri, tanpa embel-embel blogspot.com atau wordpress.com bisa memesan di Nama Domain. Trus, untuk web hostingnya pesan di Web Hosting Indonesia. Semoga sekelumit tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

| Sampan di Sungai Kapuas |
Selain itu, untuk membawa barang-barang keperluan ke ladang, membawa hasil panen, karet, dan keperluan lainnya. Banyak hal kegunaan Sampan tersebut bagi masyarakat yang hidup di aliran sungai. Dahulu kala, sebelum ada jalan darat dan kendaraan darat seperti sekarang. Masyarakat menjadikan Sampan sebagai alat transportasi utama.
Sampan ini terbuat dari kayu, untuk membuatnya memerlukan waktu yang panjang dan ketegaran hati. Cara membuatnya dengan menggunakan peralatan kapak atau beliung dan alat tradisional lainnya. Kayu yang diameternya cukup besar, dibelah dan ditebuk hingga menjadi Sampan untuk alat transportasi. Berkembang, Sampan dibuat dari papan dengan menggunakan sistem pelenturan papan dengan metode di huyu istilah Dayak Krio di panaskan pada api dan dibentuk. Untuk menjalankan alat transportasi ini menggunakan alat yang namanya pengayuh dan galah. Pengayuh itu terbuat dari kayu, yang dibuat lempengan untuk mengayuhkan Sampan dan galah itu terbuat dari kayu ataupun bambu untuk menolakan Sampan biar tambah laju.
Sampan, dipakai harus ada yang mengemudikannya dengan pengayuh tersebut agar bisa kekanan, kekiri, dan berbalik arah sesuai dengan kemauan kita. Yang didepan bisa juga menggunakan pengayuh atau galah untuk menjalankan Sampan tersebut. Hebatnya, selain bermanfaat untuk alat transportasi kalau kita mengayuh Sampan juga untuk kebugaran tubuh, hingga tetap sehat. Karena ketika mengayuhkan Sampan ini, biar bisa melaju dengan deras mesti menggunakan tenaga yang cukup kuat. Sampan sebagai filosofy utama ketika ada mesin-mesin seperti sekarang ini. Sampan tersebut di desain sedemikian rupa dengan dipasangkan mesin, dan bergerak lebih laju dengan tidak memerlukan tenaga lagi.
![]() |
| Foto Sampan dan Motor Air |
Jadi, kala sistem angkutan/kendaraan seperti sistemnya Sampan tidak akan ada penghisapan dan bentuk lainnya sebagai alat yang menghantarkan kita ke suatu tujuan apapun bentuknya. Artinya, sistem tersebut secara kolektif tanpa adanya penguasaan didalamnya. Alat yang dipakai, membuat sistem seperti ini bisa diciptakan oleh siapapun yang tidak berpikir secara serakah dengan mementingkan dirinya sendiri. Tapi kemudian membangun sebuah sistem, dimana sistem ini untuk kepentingan bersama, tidak untuk kelompok tertentu. Hingga, terciptanya kehidupan yang baru, dimana semua orang merasakan hal yang sama, semua untuk kepentingan bersama.
Di tulis oleh : Nikasius Meki
| Sedang Melakukan Diskusi |
Memang ini bukanlah suatu kesengajaan atas terjadinya hal tersebut, karena sebelumya cuaca yang tidak mendukung sempat terjadi berupa hujan yang deras disertai halilintar cukup dahsyat hingga mengakibatkan salah satu panel di mesin pembangkit PLTD daerah Sukarja tersambar olehnya.
Padahal, hal tersebut sudah di antisipasi oleh pihak terkait dengan dipasang penangkal petir untuk jaga-jaga karena begitu kuatnya hantaman si raja halilintar tersebut dan tak bisa terelakan bagaimanapun, baca juga di http://pontianak.tribunnews.com/2013/05/08/cuaca-buruk-pln-ketapang-tangkal-petir.
Oleh karenanya tidak bisa dipungkiri apabila jadwal pemadaman tersebut mengena di wilayahnya kita masing-masing. Bersamaan dengan ini, Perkumpulan Sampan Kalimantan perwakilan Ketapang mengadakan diskusi bersama kawan-kawan NGO, mahasiswa dan perwakilan masyarakat di Ketapang.
Antusiasme kawan-kawan untuk mengadakan diskusi tentang deforestasi dan degradasi hutan serta lahan menjadi cukup menarik untuk dikupas secara bersama-sama.
Sehingga yang keadaannya pada saat itu mengalami mati lampu ditempat diskusinya pada malam hari di tanggal 10 desember 2013 bertempat di Desa Baru, Kecamatan Benua Kayong masih tetap dijalankan. Dengan lampu lilin yang cukup membantu berjalannya diskusi pada malam itu, tetap membuat seluruh manusia yang ada di ruangan tersebut mengeluarkan ide-idenya yang cemerlang.
Antusiasme kawan-kawan untuk mengadakan diskusi tentang deforestasi dan degradasi hutan serta lahan menjadi cukup menarik untuk dikupas secara bersama-sama.
Sehingga yang keadaannya pada saat itu mengalami mati lampu ditempat diskusinya pada malam hari di tanggal 10 desember 2013 bertempat di Desa Baru, Kecamatan Benua Kayong masih tetap dijalankan. Dengan lampu lilin yang cukup membantu berjalannya diskusi pada malam itu, tetap membuat seluruh manusia yang ada di ruangan tersebut mengeluarkan ide-idenya yang cemerlang.
Karena, dampak dari deforestasi dan degradasi hutan ataupun lahan yang terjadi kedepannya kalaulah tidak di jaga dengan baik keutuhannya akan membuat bumi ini lebih gelap gulita lagi. Walaupun dengan kondisi yang sekarang sudah mulai kita rasakan bahwa kondisi alam yang kadang-kadang tak diduga-duga kejadiannya dan tidak pernah terjadi sebelum-sebelumnya bisa terjadi.
Sebagai sedikit sentuhan kepada batin atau mungkin juga sebuah peringatan kepada kita semua. Terjadi diantaranya di Kecamatan Mempawah Hulu, Kecamatan Senggah Temila, Kecamatan Menyuke, Kecamatan Meranti, dan Kecamatan Menjalin hingga ada yang tidak bisa terselamatkan dari luapan air besar itu. Berita terkait di http://m.merdeka.com/peristiwa/7-desa-di-kalbar-terendam-banjir-2000-warga-mengungsi.html.
Sebagai sedikit sentuhan kepada batin atau mungkin juga sebuah peringatan kepada kita semua. Terjadi diantaranya di Kecamatan Mempawah Hulu, Kecamatan Senggah Temila, Kecamatan Menyuke, Kecamatan Meranti, dan Kecamatan Menjalin hingga ada yang tidak bisa terselamatkan dari luapan air besar itu. Berita terkait di http://m.merdeka.com/peristiwa/7-desa-di-kalbar-terendam-banjir-2000-warga-mengungsi.html.
Sebelum lebih parah dari itu, menjadi sebuah langkah yang solutif apabila adanya tindakan yang lebih positif untuk mencoba menjawab ataupun paling tidak berupa sumbangan pemikiran melihat kejadian-kejadian semacam ini. Perkumpulan Sampan (Sahabat Masyarakat Pantai) sendiri, sebagai cita-cita juga mempunyai jargonnya adalah Tata Kelola Hutan dan Lahan yang Adil, Lestari dan Berkelanjutan.
Berbagai sekelumit informasi yang telah coba digubris hingga saat ini sebagiannya di http://sampankalimantan.org/. Hingga akan sangat membantu sekali dukungan dari semua pihak dalam mensukseskan kegiatan terkait yang dilaksanakan oleh Sampan Kalimantan dan ini betul-betul berguna untuk kita semua.
Berbagai sekelumit informasi yang telah coba digubris hingga saat ini sebagiannya di http://sampankalimantan.org/. Hingga akan sangat membantu sekali dukungan dari semua pihak dalam mensukseskan kegiatan terkait yang dilaksanakan oleh Sampan Kalimantan dan ini betul-betul berguna untuk kita semua.
![]() |
| Siswa Melakukan Percobaan Soda Kue dan Cangkang Telur |
Saya coba membagikan yang saya
anggap keunikan dari ilmu kimia itu sendiri, kenapa saya katakan unik? Karena kita
akan melihat suatu kejadian yang kalau kita pikir secara akal sehat itu hal
yang tidak mungkin terjadi. Sederhana saja sih, hanya melalui bahan-bahan yang
ada dikeseharian kita. Kejadian ini sudah cukup lama sekali berlalu, yakni pada
saat tugas akhir saya selesaikan dengan tema tersebut.
Tapi bukan lamanya, namun karena
saya ingin berbagi dengan apa yang pernah saya lakukan itu. Mungkin untuk memperkenalkan
kimia itu sendiri, untuk yang memberikan bahan ajar kimia, dan untuk orang yang
mencintai kimia serta banyak hal lah yang bisa saja lebih bermanfaat lagi. Dan,
sekecil apapun pengetahuan itu ketika kita memilikinya akan sangat bermanfaat
untuk kita dan orang lain.
Pada tahun 2010, saya
memberikannya kepada siswa SMA Negeri 1 Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang,
Kalimantan Barat. Sampel kali ini saya pakai adalah Balon! Balon saya pilih
karena ini adalah mainan yang digemari dengan harus ditiup, atau bisa saja
dipakai di pesta ulang tahun dan juga pesta pernikahan.
Nah, untuk meniup balon ini tidak
menggunakan metode seperti biasanya dengan mulut dan atau menggunakan pompa.
Kali ini menggunakan cukup menggunakan bahan sehari-hari yakni cangkang telur,
soda kue dan asam cuka. Coba saja dipraktekan, cangkang telur itu dengan asam
cuka. Cangkang telur tersebut diperkecil dicampur dengan asam cuka tersebut,
begitu juga dengan soda kue tersebut juga dicampur dengan asam cuka.
Cangkang telur dan soda kue
tersebut dibuat tempat berlainan, kalau mempunyai alat seperti peralatan kimia
kayak erlemeyer. Setelah dicampurkan bahan-bahan tersebut di atas, masukan saja
balon tersebut kedalam mulut gelas erlemeyer itu. Tunggu beberapa saat balon
tersebut akan menggelembung dengan sendirinya.
Materi tersebut berkaitan dengan
materi Laju Reaksi, pada permukaan bidang sentuh. Dari Dua kejadian tersebut,
kita bisa menyimpulakan bagaimana laju reaksi itu sendiri terkait dengan
permukaan bidang sentuhnya. Nah, ternyata memberikan motivasi cukup berarti
untuk siswa-siswa pada saat pelajaran kimia. Siswa yang belajar kimia, menjadi
sangat senang dan antusias sekali dengan bahan ajar tersebut. Hal-hal semacam
ini bisa dijadikan sebagai variasi untuk para pegnajar kimia agar membuat kimia
itu menyenangkan. Selamat mencoba ya!!!
![]() |
| Ilustrasi |
Dengan terkusuk-kusuk, segera saya menyusul kawan tadi. Setelah ketemu, langsung saya samparin kawan yang mengalami sakit. Dengan menggeliat merasa kesakitan, kawan tersebut sambil dipijit-pijit oleh seorang Bapak yang umurnya paruh baya. Tapi bukan karena sakit dipijit, tapi karena perut yang persisnya dilambung kawan tadi terasa perih dan terasa ditusuk-tusuk.
Bukan ape ak, ini te kenak mah beh! Dengan kentalnya bahasa
ketapang yang dilontarkan seorang Bapak tersebut mengatakan bahwa kawan tadi
kena penyakit mah. Luar biasa pelayanan orang tua di rumah tersebut, selain
mempoles kawan yang sakit tadi kita juga dilayaninya dengan baik. Makanan dan
minuman dia hidangkan. Bahkan kemudian karena merasa kurang adanya perkembangan,
dia memanggil seorang Ibuk yang biasa mengobati orang dengan cara tradisional.
Konon, Ibuk tersebut biasa menyembuhkan orang-orang yang
sakitnya kuat. Ketika datang, berbagai ramuan dan obat-obatan yang menurutnya
bisa menyembuhkan kawan tadi dikeluarkan. Dan selang beberapa waktu telah
berlalu, setelah selesai meracik dan memberikannya kepada kawan tadi. Langsung,
dia memuntahkan apa yang ada di isi perutnya tersebut. Seperti disuruh saja
oleh Ibu tadi, muntahnya sangat lancar.
Dan, beberapa selang kemudian yang sebelumnya kawan saya
tadi sempat terkapar mulai bisa duduk agak sempurna bahkan sampai berdiri.
Membuat petang yang singkat itu, kita permisi dengan orang seisi rumah itu.
Tapi sebelum pulang, kita tahu bahwa kondisi dompet kita pada minim semua,
namun tanpa sungkan kita langsung tanya bayaran pelayanan dan
pengobatan yang sudah diberikan. Apa jawab mereka? Tidak usah nak, kami iklas
membantu kalian.
Saat ini kalian yang minta bantu, besok-besok bisa saja kami
yang dibantu oleh orang lain. Karena kita manusia ini tidak tahu apa yang akan
terjadi pada kita dikemudian hari. Dan, tidak bisa dipungkiri perlakuan seperti
ini akan terjadi pada kita semua. Jadi, itu sudah tugas kita sebagai manusia
makhluk sosial. Tidak ada salahnya kalau kita saling berbagi seperti ini.
Berbeda dari itu, walaupun sudah bisa bergerak tapi rasa sakitnya tetap ada dan kita melanjutkan perjalanan. Membuat kita memutuskan untuk pergi
kerumah sakit tergolong milik pemerintahlah diwilayah itu. Sambil menghubungi
kawan, tujuannya agar bisa segera dipinjamkan dana untuk berobat. Kitapun memasuki
rumah sakit tersebut, langsung menuju UGD.
Walaupun agak sedikit lamban, pelayanan segera kita
dapatkan. Dicoret-coretnya secarik kertas itu, ditulisnya San Mag, dll.
Langsung disodorkan pada kita! Langsung ambil bang obatnya ke bagian farmasi.
Tiba disana, setelah obatnya selesai dikumpulkan dan sebelum diberikan pada
kita! Eh, kita sudah diminta bayar terlebih dahulu. Dan, seluruh
biaya perobatan malam itu ditotalkan mencapai Rp.
300.000,-.
Besoknya, pagi-pagi buta karena merasa perutnya masih terasa
sangat sakit sekali. Kita memutuskan untuk melanjutkan pengobatan lagi, tapi dirumah sakit lainnya. Rumah sakit miliknya pihak swasta, yang cukup ternama di Kabupaten Ketapang ini. Dari hasil analisa, kawan tersebut keputusannya harus di
obname. Berjalan sampai esok harinya kita memutuskan keluar, karena yakin
biayanya akan bengkak.
Tidak salah lagi, setelah administrasi sudah dibereskan dan
melakukan pembayaran. Biaya yang dikeluarkan untuk biaya pengobatan tersebut
mencapai 2 juta-an. Baru selang 1 hari, tapi biaya yang
dikeluarkan sudah begitu besar untuk ukuran kami sebagai masyarakat yang kurang
mampu. Luar biasa sangat besar sekali biaya pengobatan sekarang, apakah itu
bisa dijangkau oleh semua orang?
Kalau pendapatan seseorang kisaran sebegitu dalam sebulan
dan harus mengeluarkannya hanya dalam sekejap, akan sangat miris sekali yang
terjadi. Belum lagi memikirkan biaya-biaya yang lainnya.
Padahal, pengobatan di rumah sakit tidak memberikan pengobatan secara menyeluruh untuk orang yang kurang mampu. Karena, selain kepastian akan penyakitnya bisa sembuh dia harus menderita penyakit baru lagi yang harus dideritanya. Penyakit oleh karena biaya yang sudah dikeluarkan begitu banyak untuk ukuran orang yang kurang mampu. Karena, biaya yang dikeluarkan untuk biaya pengobatan yang ada sebagai modal hidup yang sudah lama terkumpul.
Obat-obat kampung dianggap mistis, karena pakai jampi-jampi yang dilakukan oleh dukun-dukun kampung. Nah, kalau saya melihatnya bukan dijampi-jampinya ataupun pengobatan tradisionalnya tapi kasiat obatnya. Seperti salah satu yang pernah saya identifikasi, di kampung (Dayak Krio-Ketapang) untuk mengobati bengkak dengan menggunakan kapur dan kunyit. Tidak begitu memakan waktu yang lama, bengkak yang diderita oleh seseorang langsung kempis dan sembuh.
Kapur sirih mengandung senyawa Ca (OH)2 (Kalsium Hidroksida), senyawa tersebut berfungsi mengangkat sel-sel yang sudah rusak dan menggantikannya dengan sel-sel yang baru. Sedangkan kunyit, berfungsi untuk memperbaiki jaringan pada kulit yang rusak. Sekarang, banyak juga dikembangkan pola pengobatan herbal dengan menggunakan bahan-bahan yang alami. Di masyarakat adat sudah mengenal metode pengobatan seperti itu, sudah jaman nenek moyang dahulu.
Artinya, baik pengobatan tradisional maupun modern juga tidak ada perbedaan. Bedanya, pengobatan modern melalui pengujian secara laboratorium sedangkan tradisional tidak. Tapi, hakikatnya sama-sama bisa menyembuhkan orang yang sakit. Jadi, ketimbang harus mengeluarkan biaya yang besar untuk dapat pengobatan secara modern. Bisa juga mencari alternatif pengobatan secara tradisional dengan tidak menelan biaya yang besar. Toh dari dulu, di masyarakat adat sebelum mengenal metode pengobatan secara modern, melakukan pengobatan secara tradisional yang juga bisa menyembuhkan.
Tapi, tidak ada larangan bagi siapapun untuk memilih pengobatan baik secara tradisional maupun modern. Semuanya tergantung pada kebutuhan individu yang ingin mendapatkan pengobatan. Tulisan ini mengajak kita semua untuk melihat bahwa biaya kesehatan semakin tinggi hingga saat ini. Hingga, orang-orang melupakan pengobatan yang murah meriah namun hasilnya tidak begitu berbeda.
Padahal, pengobatan di rumah sakit tidak memberikan pengobatan secara menyeluruh untuk orang yang kurang mampu. Karena, selain kepastian akan penyakitnya bisa sembuh dia harus menderita penyakit baru lagi yang harus dideritanya. Penyakit oleh karena biaya yang sudah dikeluarkan begitu banyak untuk ukuran orang yang kurang mampu. Karena, biaya yang dikeluarkan untuk biaya pengobatan yang ada sebagai modal hidup yang sudah lama terkumpul.
Obat-obat kampung dianggap mistis, karena pakai jampi-jampi yang dilakukan oleh dukun-dukun kampung. Nah, kalau saya melihatnya bukan dijampi-jampinya ataupun pengobatan tradisionalnya tapi kasiat obatnya. Seperti salah satu yang pernah saya identifikasi, di kampung (Dayak Krio-Ketapang) untuk mengobati bengkak dengan menggunakan kapur dan kunyit. Tidak begitu memakan waktu yang lama, bengkak yang diderita oleh seseorang langsung kempis dan sembuh.
Kapur sirih mengandung senyawa Ca (OH)2 (Kalsium Hidroksida), senyawa tersebut berfungsi mengangkat sel-sel yang sudah rusak dan menggantikannya dengan sel-sel yang baru. Sedangkan kunyit, berfungsi untuk memperbaiki jaringan pada kulit yang rusak. Sekarang, banyak juga dikembangkan pola pengobatan herbal dengan menggunakan bahan-bahan yang alami. Di masyarakat adat sudah mengenal metode pengobatan seperti itu, sudah jaman nenek moyang dahulu.
Artinya, baik pengobatan tradisional maupun modern juga tidak ada perbedaan. Bedanya, pengobatan modern melalui pengujian secara laboratorium sedangkan tradisional tidak. Tapi, hakikatnya sama-sama bisa menyembuhkan orang yang sakit. Jadi, ketimbang harus mengeluarkan biaya yang besar untuk dapat pengobatan secara modern. Bisa juga mencari alternatif pengobatan secara tradisional dengan tidak menelan biaya yang besar. Toh dari dulu, di masyarakat adat sebelum mengenal metode pengobatan secara modern, melakukan pengobatan secara tradisional yang juga bisa menyembuhkan.
Tapi, tidak ada larangan bagi siapapun untuk memilih pengobatan baik secara tradisional maupun modern. Semuanya tergantung pada kebutuhan individu yang ingin mendapatkan pengobatan. Tulisan ini mengajak kita semua untuk melihat bahwa biaya kesehatan semakin tinggi hingga saat ini. Hingga, orang-orang melupakan pengobatan yang murah meriah namun hasilnya tidak begitu berbeda.
Di post oleh : Nikasius Meki
| Foto Lord Revlo Kyanaseta |
Tiap saat dia selalu ingin diputarkan atau dinyanyikan musik/gamelan tangdejang tersebut. Takala sedang memegang handphone dan atau laptop. Biar dia bisa menari dengan kelentikan tangannya dan gemulai tubuhnya walaupun terhitung masih anak-anak sekali. Sangat pandainya dia berputar, kaki senada dengan musik, tangan diputar sedemikian rupa dan tubuh diputarkan sesuai dengan kreasinya. Dan, sampai saat ini anak ini setiap ada acara perkawinan di kampung tidak ketinggalan menari-nari dengan tangannya yang lemah gemulai.
Bapak merasa bangga mempunyai Putra
sepertimu Lord Revlo Kynaseta, oleh sebab itu ini Bapak tuangkan dalam bentuk
tulisan ini agar bisa menjadi kenang-kenangan sampai dirimu besar nanti.
Hebatnya juga anak ini tidak pernah mau ketinggalan kala terkait dengan hal-hal
yang orang lain lakukan dan orangnya tahan banting. Orang begamal dia juga mau
melakukannya, tapi sembarang pukulah. Begitu juga dengan aktifitas lainnya,
Sampai-sampai Mamanya yang bernama Bernadetha Esti Lestari itu kadang merasa
terusik kala anak itu usil terhadap pekerjaan-pekerjaannya. Cuma untuk terjatuh
ataupun terjungkal hal yang biasa bagi dia.
Sehingga, apabila jauh darinya
sangat terkenang sekali dengan kelakuan dan tindak tanduknya. Apalagi kala dia
bermanja pada kita, dipeluk, dicium dan macam-macam hal dia ngusik kita. Sekarang
dia sudah bisa makan sendiri, bermain sendiri, dan banyak hal yang dia lakukan
dengan kepandaian yang dia miliki. Ya, mudah-mudahan sampai kamu besar nanti
kamu menjadi orang yang bisa diharapkan oleh semua orang. Berbuat hal-hal yang
baik, bisa bermanfaat dan berguna bagi banyak orang. Semoga sekelumit tulisan papa ini
bermanfaat untukmu nantinya nak!!! Salam Sayang dari Papa mu: Nikasius Meki.
![]() |
| Dok. Foto Laman Tembawang, Mandi di Sungai Krio |
Terlintas yang ada dipikiran kita semua, ngomong soal Benua pasti bayangan yang ada di benak kita adalah suatu wilayah yang cukup luas dan besar. Nah, disini saya akan berbagai mengenai Benua yang lainnya. Benua ini berbeda dengan Benua yang biasa kita kenal seperti Benua Afrika, Benua Eropa dan lain sebagainya itu. Benua yang satu ini terdapat di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Di Ketapang, yang diketemukan saat ini ada 2 Benua yang ada, keduanya itu merupakan tempat yang pernah saya diami. Pertama Benua Krio, Benua ini merupakan sebutan untuk sebuah desa yang ada di pedalaman Ketapang, Kalimantan Barat. Disebut Benua Krio karena tempatnya berada di muara sungai Krio. Berbatasan langsung antara Sungai Krio dan Sungai Pawan, sebagai jalur penghubung sampai menuju kota Ketapang (Kota Kabupaten) untuk saat ini.
Di Ketapang, yang diketemukan saat ini ada 2 Benua yang ada, keduanya itu merupakan tempat yang pernah saya diami. Pertama Benua Krio, Benua ini merupakan sebutan untuk sebuah desa yang ada di pedalaman Ketapang, Kalimantan Barat. Disebut Benua Krio karena tempatnya berada di muara sungai Krio. Berbatasan langsung antara Sungai Krio dan Sungai Pawan, sebagai jalur penghubung sampai menuju kota Ketapang (Kota Kabupaten) untuk saat ini.
Duhulunya, untuk keperluan-keperluan ke Kotan Kabupaten masih menggunakan Jalur Sungai ini. Juga untuk keperluan membeli sembako dan Jalur perdagangan masyarakat di Daerah Jalur Sungai tersebut. Waktu itu memang belum ada jalan tembus seperti jalan darat sekarang ini, adapun jalannya masih Jalan Tikus. Jalan tikus maksudnya, jalan setapak yang hanya dipakai untuk berjalan kaki. Para orang tua terdahulu, bagi yang tidak mempunyai kendaraan air terpaksa harus berjalan kaki menuju ke Sandai dan ke Ketapang. Kakek ku yang bernama Unti dengan gelar Gabuk Panak bilang, untuk menuju ke Sandai memakan waktu sampai satu minggu bahkan lebih. Untuk sampai ke kota Ketapang memakan waktu sampai 1 bulan bahkab lebih.
Waktu itu, ketika ingin melakukan perjalanan memang disiapkan bekal untuk diperjalanan, seperti beras dan sebagainya untuk kebutuhan makan di jalan. Tapi Kakek ku bilang, mereka menempuh perjalanan yang demikian itu tidak mengeluh, tidak mengenal lelah dan capek. Perjalanan seperti ini biasa ditempuh oleh para orang-orang tua dulunya. Tidak seperti sekarang ini, semua serba ada tapi masih saja mengeluh canda Gabuk Unti terhadap saya. Gabuk tempat kami panggilan untuk Kakek. Tapi dulu kami bisa Sekolah dan benar-benar cari ilmu untuk bersekolah dan selesai, tambah beliau coba memotivasi ku.
Sungai Krio ini banyak kenangannya, dulu tempat untuk Mandi, Masak, Cuci dan Kakus. Di sungai ini juga tempat diriku dibesarkan, maksudnya untuk kepentingan mandi, bersih-bersih, dan lain sebagainya. Asik sekali dulunya di sungai ini, sungainya sangat bersih dan banyak sekali ikan-ikannya. Kalau untuk air minum bisa langsung bisa dimasak, karena memang putih bersih sungainya. Ikan juga dulunya sangat mudah mencarinya, biasa sebelum turun sekolah disaat masih SD ketika itu cukup dengan umpan nasi di lempar-lempar pancingnya tidak begitu lama untuk mencari satu keronjong (keranjang dari bambu).
Setiap paginya Bapak ku juga mudah dapat dari pukat, tajur (pancing dipasang begitu saja), bubu, tekalak, penjuring, rae, ntambatn (perangkap ikan rotan dan bambu). Sekarang sungai ini mengalami pencemaran, jangankan untuk dikonsumsi, mandi juga jarang digunakan. Pencemaran oleh PETI (Penambang Emas Tanpa Ijin), hanya untuk satu alasan cari makan oleh para Cukong-Cukong Emas itu. Beruntung, ada bantuan air bersih, kalau tidak bisa seperti kasus buyat kejadian di tempat kami.Pun, ikan-ikan yang di ambil menggunakan setrum dari listrik (genset), membuat ikan tersebut susah beranak pinak.
Waktu itu, ketika ingin melakukan perjalanan memang disiapkan bekal untuk diperjalanan, seperti beras dan sebagainya untuk kebutuhan makan di jalan. Tapi Kakek ku bilang, mereka menempuh perjalanan yang demikian itu tidak mengeluh, tidak mengenal lelah dan capek. Perjalanan seperti ini biasa ditempuh oleh para orang-orang tua dulunya. Tidak seperti sekarang ini, semua serba ada tapi masih saja mengeluh canda Gabuk Unti terhadap saya. Gabuk tempat kami panggilan untuk Kakek. Tapi dulu kami bisa Sekolah dan benar-benar cari ilmu untuk bersekolah dan selesai, tambah beliau coba memotivasi ku.
Sungai Krio ini banyak kenangannya, dulu tempat untuk Mandi, Masak, Cuci dan Kakus. Di sungai ini juga tempat diriku dibesarkan, maksudnya untuk kepentingan mandi, bersih-bersih, dan lain sebagainya. Asik sekali dulunya di sungai ini, sungainya sangat bersih dan banyak sekali ikan-ikannya. Kalau untuk air minum bisa langsung bisa dimasak, karena memang putih bersih sungainya. Ikan juga dulunya sangat mudah mencarinya, biasa sebelum turun sekolah disaat masih SD ketika itu cukup dengan umpan nasi di lempar-lempar pancingnya tidak begitu lama untuk mencari satu keronjong (keranjang dari bambu).
Setiap paginya Bapak ku juga mudah dapat dari pukat, tajur (pancing dipasang begitu saja), bubu, tekalak, penjuring, rae, ntambatn (perangkap ikan rotan dan bambu). Sekarang sungai ini mengalami pencemaran, jangankan untuk dikonsumsi, mandi juga jarang digunakan. Pencemaran oleh PETI (Penambang Emas Tanpa Ijin), hanya untuk satu alasan cari makan oleh para Cukong-Cukong Emas itu. Beruntung, ada bantuan air bersih, kalau tidak bisa seperti kasus buyat kejadian di tempat kami.Pun, ikan-ikan yang di ambil menggunakan setrum dari listrik (genset), membuat ikan tersebut susah beranak pinak.
Kedua Benua Kayong, Benua Kayong ini adalah sebutan untuk Kecamatan yang ada di Kabupaten Ketapang. Tempat ini juga merupakan tempat yang ada di muara sungai yakni Sungai Pawan Ketapang. Tempat ini hanya dipisahkan oleh Sungai Pawan saja dari Pusat Kota Ketapang. Untuk menuju ketempat ini cuma dengan menyeberangi Jembatan Pawan 1. Sekarang saya berpenghuni di daerah tersebut, aneh tapi nyata kejadiannya bukanlah disengaja. Beralih tinggal di Benua Krio, sekarang malah tinggal di Benua Kayong. Yang keduanya sama-sama Benua.
Di Benua Krio, tempatnya karena kampung sedikit sepi dan terhitung kecil wilayahnya, sedangkan Benua Kayong ramai karena masih merupakan Kota Kecamatan lagi.
Mudah-mudahan selanjutnya saya akan menginjak Benua yang lebih besar lagi, yg tingkatannya malah sampai ke tingaktan dunia. Tapi, ini baru sebatas angan-angan saja, tidak tahu jalan apalagi yang akan saya tempuh agar bisa sampai kesana. Mungkin 5 tahun atau 10 tahun atau hanya sebatas tertulis di kertas putih ini. Semoga saja akan ada jalan yang baik untuk bisa kesana, bahkan terlebih untuk bisa melakukan studi atau lanjutan studi ku nantinya. Amin.
![]() |
| Ilustrasi, Laman Tembawang |
Di sungai melayu rayak ini dominannya
suku jawa, kisaran sampai 80% karena yang diawali dari tahun 1992 tersebut transmigrasi pertama
oleh Penduduk dari Jawa Tengah, disusul oleh Penduduk Dari Jawa Timur, kemudian
oleh Penduduk Dari Jawa Barat dan penduduk dari Nusa Tenggara Timur. Selain
itu, suku-suku lainnya yang mendiami wilayah tersebut ada suku melayu, suku
dayak dan suku Batak.
Hebatnya menurut Pak De Yatmin walaupun
sukunya berbeda-beda disana, tidak pernah ada perselisihan antar suku. Antara
suku satu dengan suku yang lainnya saling menghargai perbedaan, saling
menghargai agama masing-masing yang dianut. Karena, beliau anggap perpecahan
itu memang tidak penting. Malah ada untungnya kalau kita bersatu dan saling
membantu. Yang satunya ada masalah, saling bantu dan saling mengisi satu dengan
yang lainnya, dan kita menjalani hidup ini terasa lebih ringan.
Banyak hal yang ditangkap dari beliau,
beliau menceritakan dari awal hidup sampai saat ini. Pahit manis hidup sudah
sangat cukup beliau rasakan, dulu dari jawa tanpa bermodal apapun, mulai merintis
hidup di Piansak dengan berkebun dan menjual tenaga kerja menjadi Buruh Tani
disalah satu Perusahaan Sawit terdekat. Awal penghasilan sangat kecil, makan
juga susah. Namun, berkat ketegaran beliau dalam menjalankan hidup sekarang
bisa sampai mengkuliahkan anaknya menjadi Sarjana.
Dijawa hidup cukup susah, persoalan
awalnya adalah Tanah. Disana Tanah dikuasai oleh Perhutani dan perusahaan
raksasa lainnya. Hingga, lahan masyarakat menjadi sangat sempit sekali. Jadi,
kalau kita masyarakat bawah cukup rentan sekali kehidupannya. Disini, dengan
modal lahan cukup luas kita bisa mengelola apa saja dengan berkebun atau
bertanam apapun untuk dijual.
Bicara mengenai pendidikan, beliau
bahkan hanya menginjak bangku Sekolah Dasar itupun tidak selesai. Namun pesan
Beliau, hidup itu tidak boleh sombong, kita mesti belajar dari siapapun.
Melihat orang itu jangan melihat dari tingkat pendidikannya, jabatannya,
kedudukannya, pangkatnya, dan strata sosial lainnya, namun dilihat dari apa
yang dia katakan. Manusia itu harus sadar bahwa kita itu belajar dari sesama
kita manusia, dan kita pasti butuh sesama.
Ya, berbuatlah sesama manusia tanpa
melihat dia itu siapa. Banyak jugakan orang berpendidikan bicaranya atau bahkan
kerjanya serta tindakannya juga ngaur, tidak peduli sama nasib sesama, lihat
saja di Televisi itu sambung Pak De. Orang-orang yang katanya pintar itu, tidak
lain diberitakan adalah mereka yang suka nyolong duit rakyat, suka tawuran, dsb.
Ngomongnya pandai, dalam hal membela diri tapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Sehingga oleh perbuatan yang seperti itu,
yang baik menjadi tertutupi. Inilah potret buram dari sistem kita yang ada ini,
akankah Indonesia semakin membaik? Semua ada ditangan kita!!?. Ya, semoga apa
yang saya katakan ini cukup bermanfaat, itulah sekilas tentang kisah
perbincangan saya dengan Pak De Yatmin.
| Salah Satu Kondisi Jalan dan Tembatan Menuju Ketapang |
Jalur
darat, apabila di tempuh dari pusat propinsi bisa melewati jalan transkalimatan
yang ada sekarang. Tepatnya di Kecamatan Tayab Kabupaten Ketapang ada dua
persimpangan, menuju Kalimantan Tengah dan menuju Kabupaten Ketapang. Nah,
walaupun kondisi jalannya belum begitu bagus menuju kota kabupaten tersebut,
namun bisa menghantarkan kita sampai ke tujuan. Tapi memang, kalau musim hujan
cukup kuat pertarungan menghadapi kondisi jalan tersebut.
Kemudian,
jalur udara dengan menggunakan pesawat terbang, yang berlandas di bandar udara
Rahadi Oesman yang ada di Kabupaten tersebut. Dan, jalur sungai bisa
menggunakan very di pelabuhan seng hi pontianak. Selain itu, yang paling
mengasikan adalah jalur yang kita lewati
dengan jalur sungai melalui Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya.
Saya,
biasanya menggunakan kendaraan klotok dengan jam berangkatnya sore sekitaran pukul
16.00 wib. Asiknya, menggunakan jalur ini adalah dengan melihat banyak
pemandangan yang bisa kita lihat sepanjang sungai kapuas yang kita lalaui.
Pohon-pohon pesisir pantai seperti mangrove, nipah dan lain sebagainya. Itu,
merupakan kekayaan sumber daya alam Kalbar di daerah pesisir yang selalu dijaga
dan dilestarikan ole masyarakat pesisir.
Mangrove
di pesisir pantai sepanjang sungai kapuas dan sekitarnya menjadi tumpuan kehiduapan
masyarakat. Untuk tempat cari kepiting, kepah, renjong, udang, ikan dan lain
sebagainya. Mangrove tersebut juga punya manfaat yang cukup besar dalam menjaga
biota laut, karena selain sebagai tempat habitat laut, sebagai sumber makanan
plangton, juga untuk menyerap toksid (racun) yang berbahaya disekitaran sungai
tersebut.
Diluar
itu, tanaman mangrove pesisir tersebut juga bermanfaat untuk menjaga ketahanan
ekosistem yang ada disekitarnya, terkait dari luapan air laut, banjir besar dan
bencana yang tak terduga lainnya. Berangkat dari itu, menjadi penting kekayaan
Kalbar tersebut untuk tetap dijaga dan dilestarikan sepanjang hayat. Dan,
tidak bisa dipungkiri itu sebagai jantungnya kehidupan seluruh manusia yang ada
di kalbar. Karena, apabila itu tidak bisa dipertahankan dengan baik sesuai
keutuhannya keberlangsungan bumi borneo yang ada sekarang akan lenyap ditelan
badai, taupan, banjir dan bencana lainnya.
![]() |
| Lokasi Tanah Masyarakat |
Masyarakat adat mempunyai kehormatan sendiri terhadap hutan dan alam yang ada, hal itu bisa dilihat melalui ritual-ritual adat ataupun budaya yang dilakukan dan bahkan sampai tingkatan hukum adat[2] untuk mengatur sendi-sendi kehidupan yang ada dimasyarakat. Pun, tanah adat[3] bagi mereka merupakan urat nadi karena selama ini mereka hidup dan bergantungan terhadap tanah dan kekayaan alam lainnya yang bisa dimanfaatkan. Kehidupan yang dibangun oleh masyarakat adat selama ini dengan kebersamaan (kolektif) dan tidak adanya monopoli terhadap penguasaan hutan dan lahan yang ada. Hal ini tercantum juga dalam sistem penguasaan tembawang masyarakat.
Dikuasai secara bersama-sama dan milik bersama. Tembawang masih menyisakan bahwa ada kehidupan yang telah lama terbangun selama ini dalam menjaga dan merawat hutan maupun lahan secara adil, lestari, dan berkelanjutan. Maka, ini merupakan salah satu identitas masyarakat adat khususnya suku dayak. Tidak bisa dipungkirinya, sampai dengan hari ini masih tercermin dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun, pengakuan terhadap sistem tembawang tersebut tidak pernah berujung. Terlebih melalui pembangun berkelanjutan secara masif untuk kepentingan investasi industri ekstraktif[4].
Sehingga, ruang kelola bagi masyarakat semakin menyempit dan rawannya ketahanan pangan bagi masyarakat. Hal tersebut dibuktikan pada tahun 2010 luas total Prop. Kalimantan Barat 58,45 % (8.581.415 Ha) sudah di kapling oleh investasi industri ekstraktif. Dengan pembagian 359 perusahaan perkebunan kelapa sawit mendapatkan konsesi seluas 6,3 juta Ha (IUP 4,7 Ha dan HGU 1,5 juta Ha), perusahaan HTI mendapatkan konsesi seluas 781.415 Ha dan 625 perusahaan pertambangan mendapatkan konsesi seluas 1,5 juta Ha. Sementara, terampasnya pondasi hidup dan penghidupan masyarakat menjadikan masyarakat tidak lagi memiliki kedaulatan atas pangan sehingga rentan akan kekurangan pangan.
Menurut data resmi Kalimantan Barat Dalam Angka 2010, hasil padi ladang masyarakat antara tahun 2005 – 2009 (5 tahun) mengalami penurunan hingga mencapai angka 80,48 % yakni pada tahun 2005 padi ladang menghasilkan 209.978 ton beras dan pada tahun 2009 hasil padi ladang hanya menghasilkan 168.992 ton beras. Penurunan produksi beras dari hasil ladang sebanding lurus dengan menurunnya luasan areal pertanian ladang yang rata-rata pertahun antara tahun 2005 – 2009 mengalami penyusutan luasan hingga 82,82 % yakni pada tahun 2005 luas areal perladangan 105.051 Ha dan pada tahun 2009 luas areal perladangan menyusut menjadi 87.007 Ha.
Berpindahnya penguasaan atas tanah, hutan dan kekayaan alam dari kepemilikan komunal masyarakat adat ke tangan investasi industri ekstraktif secara nyata, ilmiah dan tidak terbantahkan telah mengakibatkan terjadinya deforestasi dan degradasi yang semakin hebat. Padahal sebagaimana diketahui bahwa deforestasi dan degradasi berdampak pada menurunnya daya dukung ekologi yang akan menjadikan: 1).Mempercepat laju perubahan iklim akibat pemanasan global, efek emisi gas rumah kaca karena tanah dan tutupan hutanyang selama ini mampu mengikat (menyerap dan melepaskan) karbon sehingga iklim dunia dapat stabil, malah mengirimkan emisi hingga 20% (data UNDP); 2).
Tidak stabilnya suplai dan kualitas air, dimana tanah dengan tutupan hutan yang memiliki kemampuan penyerapan dan penahan air fungsinya menjadi hilang; 3). Sempitnya wilayah hidup binatangyang bergantung kepada Hutan, dan; 4). Punahnya keanekaragaman hayati langka dan unik yang terdapat di Kalimantan Barat. Sehingga, menjadi suatu keharusan pemangku kebijakan memberikan ruang kelola bagi masyarakat dan memberikan pengakuan terhadapnya.
[1]Masyarakat Adat adalah komunitas-komunitas yang hidup berdasarkan asal-usul secara turun temurun di atas satu wilayah adat yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial budaya yang diatur oleh hukum adat, dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan kehidupan masyarakat adat. Lorensius Owen dan Tatang. Palasar Palaya’ pasaroh Angkabakng. Cetak pertama maret 2013 hal 6. [2]Hukum adat adalah hukum berlaku di wilayah ruang masyarakat adat yang tidak tertulis pemberlakuannya bersifat dinamis menyesuaikan terhadap perkembangan peradaban warga masyarakat itu sendiri. Lorensius Owen dan Tatang. Palasar Palaya’ pasaroh Angkabakng. Cetak pertama maret 2013 hal 7. [3]Tanah adat (tanah ulayat) adalah bidang tanah yang di atasnya terdapat hak ulayat dari suatu masyarakat hukum adat tertentu. Lorensius Owen dan Tatang. Palasar Palaya’ pasaroh Angkabakng. Cetak pertama maret 2013 hal 8. [4]Industri ekstraktif adalah industri yang bahan baku diambil langsung dari alam sekitar. Contoh : pertanian, perkebunan, perhutanan, perikanan, peternakan, pertambangan, dan lain lain. Diunduh dari http://organisasi.org/pengertian_definisi_macam_jenis_dan_penggolongan_industri_di_indonesia_perekonomian_bisnis.
Bicara mengenai peradaban, tidak terlepas dari yang namanya kebudayaan karena peradaban itu sendiri adalah tingkat tinggi rendahnya kebudayaan suatu masyarakat. Dan, budaya sebagai sistem gagasan menjadi pedoman bagi manusia bersikap dan berperilaku. Cukup unik, peradaban yang dimiliki oleh suku bangsa dayak yang ditinggalkan oleh nenek moyang terdahulu yang terus dilestarikan hingga saat ini .
Hal itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang kemudian di implementasikan sebagai kebudayaan.
Kebudayaan yang dimiliki tersebut dikenal ada beberapa hal seperti upacara , keseniannya, kerajinan tangannya dan bahkan sampai pada tataran untuk mempertahankan kehidupannya. Upacara adat dilakukan tidak lepas dari pemanfaatan tumbuhan-tumbuhan hutan seperti aneka kayu-kayuan hutan, rotan, bambu dan lainnya seperti pemanfaatan rotan untuk kerajinan tangan, aneka anyam-anyaman dari bambu, dan bahkan pemanfaatan kayu-kayu untuk alat kesenian seperti sapek dan lainnya. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berladang, bercocok tanam, berkebun, berburu dan meramu. Lahan paska ladang yang sudah dibuka kemudian ditanami kembali untuk perkebunan karet, perkebunan rakyat dan lain sebagainya.
Kesemuanya itulah yang menggambarkan bahwa hutan, lahan dan sumber daya alam lainnya begitu penting bagi kehidupan masyarakat itu sendiri. Artinya, suku bangsa dayak khususnya selalu hidup berdampingan dengan hutan dan lahan dan tidak bisa terpisahkan. Namun, peradaban yang dimiliki masyarakat dayak khususnya terus terusik dan mengalami pergeseran. Hutan, lahan dan sumberdaya alam yang dimiliki terlebih untuk aktifitas HPH kisaran 1.3 juta ha, untuk HTI kisaran 2.2 juta ha, untuk Perkebunan Kelapa Sawit kisaran 4.7 juta ha. untuk industri pertambangan kisaran 5.01 juta ha (data kompilasi dari berbagai sumber).
Runtuhnya peradaban yang ada, terkait bahwa kebutuhan untuk pelestarian budayanya yang bersentuhan dengan hutan dan lahan tidak bisa seutuhnya lagi didapatkan. Adapun, peletarian budaya-budaya yang ada paling sebatas kamuflase saja. Hal ini bias kita lihat dari merosotnya hasil panen dalam tiapan tahunnya, dimana lagi hewan buruan yang pergi karena senapang, dimana mencari ranting pohon kalau sudah tidak ada lagi (seperti lagu Iwan Fals) karena hutan sudah tidak utuh lagi. Begitu juga dengan alat untuk kesenian, bahan-bahan alam untuk kerjinan tangan..
Kedepan, kalau hutan dan lahan sudah tidak bisa dipertahankan dan dilestarikan sebaik mungkin, maka yang terjadi bukan hanya runtuhnya peradaban yang dimiliki oleh suku dayak sendiri bahkan akan hilang. Maka, saat ini tidak ada lagi harga tawar menawar bahwa hutan dan lahan bagi masyarakat umumnya dan suku bangsa dayak khususnya harus tetap dipertahankan sebaik-baiknya. Hal tersebut tentunya agar keberlanjutan massa depan perekonomian Indonesia dan seluruh rakyat yang ada ini. Dan, snagat diperlukan ada perbaikan tentang tata kelola hutan dan lahan yang lebih adil, lestari dan keberlanjutan.
Di post oleh : Nikasius Meki - PO SAMPAN Ketapang
Kebudayaan yang dimiliki tersebut dikenal ada beberapa hal seperti upacara , keseniannya, kerajinan tangannya dan bahkan sampai pada tataran untuk mempertahankan kehidupannya. Upacara adat dilakukan tidak lepas dari pemanfaatan tumbuhan-tumbuhan hutan seperti aneka kayu-kayuan hutan, rotan, bambu dan lainnya seperti pemanfaatan rotan untuk kerajinan tangan, aneka anyam-anyaman dari bambu, dan bahkan pemanfaatan kayu-kayu untuk alat kesenian seperti sapek dan lainnya. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berladang, bercocok tanam, berkebun, berburu dan meramu. Lahan paska ladang yang sudah dibuka kemudian ditanami kembali untuk perkebunan karet, perkebunan rakyat dan lain sebagainya.
Kesemuanya itulah yang menggambarkan bahwa hutan, lahan dan sumber daya alam lainnya begitu penting bagi kehidupan masyarakat itu sendiri. Artinya, suku bangsa dayak khususnya selalu hidup berdampingan dengan hutan dan lahan dan tidak bisa terpisahkan. Namun, peradaban yang dimiliki masyarakat dayak khususnya terus terusik dan mengalami pergeseran. Hutan, lahan dan sumberdaya alam yang dimiliki terlebih untuk aktifitas HPH kisaran 1.3 juta ha, untuk HTI kisaran 2.2 juta ha, untuk Perkebunan Kelapa Sawit kisaran 4.7 juta ha. untuk industri pertambangan kisaran 5.01 juta ha (data kompilasi dari berbagai sumber).
Runtuhnya peradaban yang ada, terkait bahwa kebutuhan untuk pelestarian budayanya yang bersentuhan dengan hutan dan lahan tidak bisa seutuhnya lagi didapatkan. Adapun, peletarian budaya-budaya yang ada paling sebatas kamuflase saja. Hal ini bias kita lihat dari merosotnya hasil panen dalam tiapan tahunnya, dimana lagi hewan buruan yang pergi karena senapang, dimana mencari ranting pohon kalau sudah tidak ada lagi (seperti lagu Iwan Fals) karena hutan sudah tidak utuh lagi. Begitu juga dengan alat untuk kesenian, bahan-bahan alam untuk kerjinan tangan..
Kedepan, kalau hutan dan lahan sudah tidak bisa dipertahankan dan dilestarikan sebaik mungkin, maka yang terjadi bukan hanya runtuhnya peradaban yang dimiliki oleh suku dayak sendiri bahkan akan hilang. Maka, saat ini tidak ada lagi harga tawar menawar bahwa hutan dan lahan bagi masyarakat umumnya dan suku bangsa dayak khususnya harus tetap dipertahankan sebaik-baiknya. Hal tersebut tentunya agar keberlanjutan massa depan perekonomian Indonesia dan seluruh rakyat yang ada ini. Dan, snagat diperlukan ada perbaikan tentang tata kelola hutan dan lahan yang lebih adil, lestari dan keberlanjutan.
Di post oleh : Nikasius Meki - PO SAMPAN Ketapang
![]() |
| Ilustrasi Laman Tembawang |
Kalimantan Barat merupakan pulau yang mempunyai wilayah yang sangat luas yaitu 14,6 Juta Ha serta potensi di dalamnya yang tidak kalah dengan pulau lainnya. Kekayaan yang bersumber dari kekayaan alam merupakan suatu sumber kekayaan yang membuat rakyat dapat menghidupi dan dihidupi oleh sumberdaya alam yang ada.
Sumberdaya alam merupakan faktor yang sangat struktural dan politis, dan sangat terkait dengan kondisi ekonomi dan penguasaan negara. Ketimpangan akan menjadi bahan perebutan sumber-sumber ekonomi dan melalui kekuasaan politik. Padahal kalau kita melihat kenyataan rakyat negeri ini masih banyak yang mengalami ketidak adilan dalam pembagian dan pemanfaatan kekayaan alam. Kenyataan tersebut dapat dilihat dalam lima hal.
Pertama, adalah kemiskinan rakyat desa yang mengalami penyusutan dalam pemilikan maupun pemanfaatan lahan garapan baik sawah maupun untuk lokasi pemukiman. Penduduk desa mengamali keterdesakan lahan dengan meninggalkan tanah kelahirannya. Strategi penduduk desa untuk memperoleh pengganti atas berkurangnya lahan adalah beralih pekerjaan menjadi buruh dan pekerja di kota-kota atau menjadi tenaga kerja di luar negeri (TKI).
Kedua, ketimpangan kepemilikan lahan yang membuat akibat struktur sosial politik masyarakat yang tidak dapat memberikan rasa keadilan dalam pengelolaan lahan yang mengutamakan masyarakat miskin. Ketidak adilan dalam pembagian tanah dan penguasaan lahan dalam pengelolaan dan pemanfaatannya oleh penguasa lokal yang membuat masyarakat semakin tertekan dalam kondisi kemiskinannya.
Ketiga, ketidak berdayaan masyarakat dalam usaha melakukan gerakan rakyat untuk melakukan reformasi agraria. Konsolidasi rakyat gerakan agraria tidak pernah memberikan kekuatan penekan untuk melakukan perubahan dari rakyat (reform by leverage). Perampasan hak atas pengelolaan sumberdaya agraria dilakukan banyak pihak yang dianggap sah untuk membodohi rakyat sebagai objek dari pembangunan. Oleh karena itu, pernah dimunculkan undang-undang yang mengatur tentang pemanfaatan ruang publik yang mana pemerintah dapat mengatas namakan kepentingan umum untuk melakukan penggusuran. Sebagai contoh, kemiskinan di kota besar biasanya dipenuhi oleh masyarakat yang berjubel, bertumpuk dalam suatu wilayah yang dianggap illegal oleh negara. Proses penggusuran di Jakarta mensisakan sejarah panjang dimana rakyat harus selalu dikalahkan oleh kepentingan yang dianggap oleh negara sebagai usaha menuju pembangunan dan modernisasi. Rumah-rumah rakyat dikalahkan untuk mendirikan gedung-gedung bertingkat yang dianggap menghasilkan banyak rente dan penghasilan bagi kelompok tertentu.
Keempat, keberpihakan negara dalam hal ini adalah aparat pemerintahan dan birokrasi yang nakal mulai melancarkan aksinya untuk memperolah dan mengakumulasikan sumber-sumber agraria. Di lain sisi, para pejabat juga memberikan kewenangannya untuk berpihak kepada para penguasa modal agar memperoleh sumber-sumber agraria dengan mudah. Kelima, adalah tekanan global memberikan ketidak berdayaan negara untuk melakukan kuasanya atas sumber-sumber agraria. Penguasaan lahan mudah dialih-fungsikan untuk kepentingan investasi luar negeri. Masyarakat luar negeri bagaikan gurita yang mencengkeram kekuasaan negara atas pengelolaan hak atas sumber-sumber agraria.
Pandangan tersebut bukan tidak mungkin dapat dilepaskan dengan kekuatan sendiri, dan dengan gerakan sosial rakyat yang semakin terhimpit, namun dalam kondisi sekarang masih dimungkinkan bahwa proses perubahan itu akan sangat sulit.Ini bukan suatu psimisme, namun dengan potensi yang sangat berlimpah bagaimana kebijakan negara untuk mengatur dan membagi sumber daya agraria untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyatnya ketika kondisi dalam negeri dan tekanan internasional dalam bentuk apapun tidak lagi kuasa dibendung? Itu suatu pertanyaan yang menarik untuk diperbincangkan terutama dikaitkan dengan proses pemiskinan yang ternyata tidak pernah lepas dari miskinnya pemanfaatan atas sumber-sumber agraria tersebut. Dapat dikatakan bahwa kenyataan kemiskinan rakyat Indonesia adalah merupakan dampak dari sistem agraria yang tidak memberikan peluang untuk melakukan kemandirian dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
![]() |
| Ilustrasi, Laman Tembawang |
Saat ini imperialisme Amerika Serikat dan Negara-negara imperialis lainnya sedang mengalami krisis yang sangat akut akibat over produksi seperti kredit macet perumahan, komoditas berteknologi canggih seperti industri persenjataan, industri kendaraan bermotor, dan lain sebagainya. Selain itu AS juga mengalami krisis energi sebagai salah satu unsur terpenting dalam aktifitas produksinya. Sementara agresi militer yang dilancarkan AS terhadap Irak dan Afganistan telah berdampak pada semakin membengkaknya utang AS. Agresi AS ke Irak sendiri telah menghabiskan anggaran sebesar USD 3 trilliun atau lebih dari Rp 27.000 triliun. Krisis ini sesungguhnya telah terjadi sejak akhir tahun 2000 lalu, dan oleh pemerintahan AS sendiri diakui sebagai krisis terparah semenjak krisis hebat (great depression) yang pernah terjadi pada tahun 1930-an yang telah melahirkan Perang Dunia (PD) II. Krisis ini telah berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi AS, bahkan di bulan Juni 2009, pertumbuhan ekonomi AS sempat minus 1,4% dengan defisit anggaran terbesar dalam sejarah AS yakni USD 1,09 T.
Untuk mengatasi krisis yang semakin kronis tersebut, pemeritahan di negeri-negeri imperialisme mengeluarkan berbagai paket kebijakan. Misalnya Amerika Serikat menyiapkan anggaran sebesar USD 700 miliar pada pemerintahan George W. Bush, dan USD 700 miliar pada pemerintahan Barack H. Obama. Paket ini termasuk didalamnya dana talangan untuk institusi keuangan yang mencapai USD 250 miliar, jaminan deposito USD 250 ribu, dan dana likuiditas mencapai USD 900 miliar. Selain itu pemerintah AS juga menaikkan pungutan pajak dan menaikan jaminan simpanan bank dari USD 100.000 menjadi USD 450.000. Demikian halnya yang terjadi di Uni Eropa, Inggris mengeluarkan USD 691 miliar, menyuntikan dana hingga USD 64 miliar untuk tiga bank terbesar, dan akan menjamin USD 439 miliar untuk menopang proses peminjaman antar bank, jaminan deposito mencapai USD 87.857 dan dana likuiditas mencapai USD 351 miliar melalui cara lelang. Jerman menyiapkan anggaran sebesar USD 680 miliar, menyuntikan dana sampai USD 109.79 miliar untuk rekapitalisasi, USD 27.4 miliar untuk bank-bank yang mengambil jaminan pinjaman, jaminan deposito tanpa batas dan dana cadangan likuiditas mencapai USD 548.9 miliar. Irlandia menyiapkan anggaran sebesar USD 544 miliar, pemerintah dapat mengambil alih kepemilikan 6 bank yang terproteksi. Jaminan deposito tanpa batas dan enam bank di jamin. Perancis menyiapkan USD 492 miliar, dapat menyuntikan dana sampai USD 54.89 miliar untuk rekapitalisasi, pemerintah dapat mengambil kepemilikan saham dan jaminan deposito mencapai USD 95.179 serta dana cadangan likuiditas mencapai USD 439 miliar. Rusia; USD 200 miliar, berjanji meminjamkan USD 35 miliar kepada perbankan lokal, perusahaan swasta dapat meminjam mulai USD 100 juta sampai USD 2.5 miliar, serta menjamin penuh deposito. Asia; USD 80 miliar. (Kompas, 26 Oktober 2008)
Akibat krisis ini, terjadi PHK secara besar-besaran terhadap klas buruh di AS. Countrywide Financial Corporation, pemberi kredit hipotik perumahan terbesar di AS, merumahkan 12 ribu buruhnya. Keputusan yang sama juga diambil oleh Citi Group Inc, Merril Lynch, Lehman Brothers Holding Inc, First National Bank Holding Co, HSBC, Home Lender Holding Co, Scottdale, dan Indy Mac Bancorp Inc. (Tempo, 3 Februari 2008). Bahkan analisis dari Third World Network, Kanag Raja memperkirakan korban PHK akibat krisis ini mencapai 5 juta orang, sementara menurut ILO, akibat krisis sekitar 20 juta buruh akan kehilangan pekerjaan. Situasi ini menunjukkan bahwa krisis yang dialami oleh negara-negara imperialis, sangat parah dan sekaligus menunjukkan bahwa hakikat dari imperialisme akan selalu melahirkan krisis.
Krisis over produksi yang terjadi di negera-negara imperialisme, khususnya Amerika Serikat, mengharuskan Amerika Serikat untuk melipatgandakan penindasan, misalnya dengan cara-cara dikte kebijakan ekonomi melalui berbagai pertemuan internasional seperti pertemuan G-7, G-8, G-20, KTT menteri keuangan dunia, dan sebagainya yang kemudian gencar dipaksakan kepada seluruh negara yang tunduk kepadanya , termasuk Indonesia. Demikianpun dengan cara yang paling bar-bar, melalui poltik “libas dan tumpas” bagi negara-negara yang tidak mau tunduk terhadap Amerika Serikat, seperti yang dialami oleh Irak, Afganistan, Palestina, dan juga Pakistan yang mana pada akhir Desember 2009, Gedung Putih telah mengeluarkan ijin bagi CIA untuk melakukan serangan udara tanpa pilot. Hal ini dilakukan sebagai upaya Amerika Serikat untuk menguasai kekayaan alam (khususnya minyak bumi) dan pasar baru terhadap hasil produksinya untuk mencegah terjadinya over produksi.
Krisis yang dialami oleh AS dan negara-negara imperialis lainnya, juga berdampak pada Indonesia, bahkan dengan tingkatan yang berlipat ganda. Ketika perekonomian AS dilaporkan mulai membaik pada akhir Desember 2009, tidak ada gejala sedikitpun yang menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia juga semakin membaik, bahkan sebaliknya, penghidupan rakyat Indonesia justeru semakin merosot. Harga-harga kebutuhan pokok yang terus mengalami kenaikan, sementara pendapatan rakyat tidak pernah mengalami peningkatan, justeru sebaliknya subsidi publik terus di pangkas dan beban pajak semakin naik. Saat ini jumlah rakyat miskin di Indonesia telah mencapai 14,2% atau 32,5 juta. Bahkan jika mengacu pada garis kemiskinan yang ditetapkan oleh Bank Dunia sebesar USD 2 per hari, maka lebih dari 50% rakyat Indonesia berada dalam kategori miskin.
Menghadapi situasi krisis tersebut, pemerintah Indonesia mengeluarkan berbagai paket kebijakan, seperti menaikan nilai jaminan tabungan dari Rp. 500 juta menjadi Rp. 2 miliar per nasabah yang ditujukan untuk mencegah terjadinya “rush” (penarikkan uang nasabah secara besar-besaran dalam waktu yang bersamaan) seperti yang pernah terjadi pada krisis 1997 yang menyebabkan bangkrut dan diakusisinya sejumlah bank swasta di Indonesia. Sementara imperialisme sangat bergantung kepada bank sebagai penjamin modal bagi kegiatan investasinya.
Selain itu pemerintah juga menyiapkan program buy back yang ditujukan untuk melakukan pembelian kembali saham-saham aset negara, ini bertujuan untuk menyehatkan kembali keuangan dari BUMN yang nilai sahamnya terus merosot. Program buy back hakekatnya hanya menyelamatkan Imperialisme dan memperpanjang nafas para borjuasi komprador, karena buy back nantinya akan membeli kembali saham-saham kepada perusahaan imperialis yang memegang gadai saham perusahan-perusahaan Indonesia. Misalnya ketika PT Bumi Resources Tbk milik PT Bakrie & Brothers Tbk yang sempat di suspen karena harganya menurun drastis, saat ini saham Bumi Resources dengan dua anak perusahaannya yaitu Arutmin dan Kaltim Prima Coal (KPC) sebanyak 5.017 sedang di gadaikan ke lembaga keuangan asing dan domestik, yang terbesar yaitu Oddickson finance, JP Morgan Chase, ICICI, Rekapital Securities, dan PNM Investement Management. Ini artinya negara yang harus membayar, sementara Bakrie Group sebagai komprador akan menikmati hasilnya, karena pasca pembayaran Repo (repurchase agreement) atau gadai, sebanyak 35 % saham Bumi Resources rencananya akan di jual kepada Northstar Pasific Ltd, yang didukung perusahaan private equity terbesar didunia dengan cadangan dana mencapai USD 27-28 milliar, yaitu Texas Pasific Group (TPG).
Selain kebijakan buy back, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan bail out, yakni pemberian bantuan langsung kepada pemilik atau perusahaan yang terlilit masalah finansial. Seperti yang terjadi pada kasus bail out Bank Century yang menghabiskan anggaran sebesar 6,7trilliun. Kondisi ini sama ketika krisis yang dihadapi pada tahun 1997 yang mana BLBI kemudian dikorup oleh para borjuis komparador dan kapitalis birokrat dan hingga sekarang kasus ini belum tuntas.
Dana program kenaikan nilai jaminan nasabah, buy back, dan bail out, sebagian besar berasal dari rakyat yang di himpun lewat berbagai sumber, mulai dari pajak, dana BUMN, dana BLBI serta APBN. Terbukti bahwa APBN 2009 berkurang sebesar Rp. 16,7 triliun untuk menjalankan program-program tersebut. Dengan demikian, pada akhirnya rakyatlah yang menjadi tumbal dari krisis ini. Tidak cukup dengan itu, seperti tidak peduli sama sekali dengan penderitaan rakyat, pada bulan Desember 2009 para menteri dan pejabat tinggi menerima bonus mobil mewah seharga Rp 1,3 miliar, jika pejabat yang menerima sebanyak 150 orang maka uang yang dikeluarkan untuk membeli mobil dinas tersebut mencapai lebih dari Rp 195 miliar.
Klas buruh Indonesia merupakan bagian dari rakyat Indonesia yang paling merasakan dampak akibat krisis imperialisme yang terjadi. Dengan dikeluarkannya SKB 4 Menteri (Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi, Dalam Negeri, Perindustrian Dan Menteri Perdagangan) No. 16 tahun 2008 Tentang Pemeliharaan Momentum Pertumbuhan Ekonomi Nasional Dalam Mengantisipasi Perkembangan Perekonomian Global, para pengusaha mendapatkan legitimasi untuk tidak membayar upah buruh dan menambahkan jam kerja yang melebihi ketentuan yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Dikatakan oleh pemerintah, hal ini ditujukan untuk menghindari PHK massal akibat krisis yang terjadi. Akan tetapi kenyataannya, PHK tetap saja berlangsung di Indonesia. Terhitung sejak Maret 2008 sampai Maret 2009, sebanyak 240,000 orang buruh harus terkena PHK. Bahkan jumlah PHK yang dirilis oleh KADIN mencapai angka lebih dari 500.000 orang, bahkan hingga Desember 2009, jumlah buruh yang di PHK mencapai 1,6 juta. Jumlah dipastikan akan terus meningkat dengan diberlakukannya kesepakatan perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia dengan Cina (CAFTA). Karena sebelum kesepakatan ini saja, industri Indonesia sudah terpuruk akibat banyaknya hasil produksi yang masuk ke Indonesia dan dijual dengan harga yang sangat murah.
Sementara itu, klas buruh Indonesia juga masih harus berhadapan dengan sistem kerja kontrak dan outsourcing yang tidak memberikan jaminan perlindungan atas pekerjaannya. Melalui sistem kerja kontrak, pengusaha mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda dengan cara tidak memberikan hak-hak buruh sebagai upaya untuk mengurangi biaya operasional yang harus dikeluarkan. Dengan alasan kerja dalam masa percobaan, pengusaha tidak memberikan upah secara penuh kepada buruh. Dan rata-rata buruh yang bekerja hanya mencapai tiga bulan. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemberian pesangon ketika buruh di PHK. Sementara dengan sistem outsourching, pengusaha menghindari pemberian hak-hak buruh dengan cara melemparkan tanggungjawab kepada perusahaan yang menyalurkan pekerjaan terjadap buruh.
Persoalan lainnya adalah soal jaminan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan dalam bekerja. Misalnya dari hasil penelitian ILO, buruh perempuan Indonesia sangat rentan terkena kanker payudara karena tidak adanya waktu yang cukup untuk menyusui bayinya karena jam kerja yang terlampu lama. Dari paparan di atas, klas buruh adalah sektor yang paling tertindas akibat krisis imperialisme yang terjadi dan kebijakan pemerintah untuk menyelamatkan imperialisme dari krisis yang dialaminya.
![]() |
| Ilustrasi, Laman Tembawang |
Dalam proses pemenuhan kebutuhan ekonominya, muncul kebutuhan untuk melakukan pembagian tugas di antara sesama anggota komune. Perempuan yang memiliki siklus alami reproduksi menyebabkan mereka lebih banyak mendapat pekerjaan meramu, sementara yang laki-laki berburu. Proses berburu pada jaman itu tidak ada rentang waktu kepastian kapan pulang kembali ke komune, karena metode berburu ini bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan lamanya. Ketidakpastian waktu berburu dan stok makanan yang mulai menipis, mendorong perempuan untuk mengembangkan metode bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.
Pada perkembangannya, proses bercocok tanam terbukti lebih efektif daripada berburu. Dan ini menjadikan perempuan kemudian lebih berdominan di kelompok, karena perempuan-lah yang menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan ekonomi komune. Dominasi perempuan dalam hubungan produksi, kemudian berkembang pada dominasi dalam berbagai aspek kehidupan komune. Dalam pengambilan segala keputusan, setiap komune memiliki sebuah dewan permusyawaratan yang itu juga didominasi oleh perempuan. Dan bahkan, banyak sekali perempuan yang kemudian menjadi pimpinan komune. Pada fase inilah awal kemunculan pola matrilineal dalam komune, dimana garis keturunan komune berdasarkan pada garis keturunan perempuan/ibu yang menjadi pemimpin dalam komune tersebut.
Ketika sumber buruan semakin sulit diperoleh, maka beralihlah kaum laki-laki dari pekerjaan berburu untuk kembali ke komune dan terlibat dalam pekerjaan bercocok tanam yang sebelumnya lebih banyak dikerjakan oleh perempuan serta mengembangkan metode berternak hewan. Karena laki-laki jauh lebih mahir menggunakan alat kerja (berangkat dari pengalamannya sebagai pemburu hewan) dari pada perempuan, maka perlahan-lahan perempuan mulai terdesak oleh laki-laki dalam hubungan produksi. Baik itu pertanian maupun peternakan. Selain itu, juga karena perempuan banyak disibukkan oleh proses reproduksi yang dialaminya (hamil, melahirkan dan menyusui), yang mengakibatkan perempuan kembali mendapatkan pekerjaan meramu sebab pekerjaan tersebut lebih mudah dikerjakan sembari merawat anak. Akan tetapi, ketika itu belum ada diskriminasi terhadap perempuan.
Berkembangnya sektor pertanian, mengakibatkan persaingan antar komune untuk memperebutkan lahan yang subur dan dekat dengan sumber air. Persaingan ini mengarah pada perang antar komune. Dan tentu saja, komune yang memenangkan peperangan adalah komune yang memiliki banyak laki-laki dan tentu saja juga dipimpin oleh laki-laki. Karena laki-laki lebih mahir dan berpengalaman dalam menggunakan alat kerja dan senjata untuk berburu, bercocok tanam dan berternak.
Dari peperangan antar komune inilah, lahir klas dalam masyarakat. Sebab, komune yang kalah kemudian dijadikan sebagai budak oleh para pimpinan dan prajurit perang dari komune yang memenangkan peperangan. Sedangkan harta kolektif milik komune yang kalah, menjadi harta milik pemimpin komune dan hadiah bagi para prajuritnya. Sehingga, pemimpin-pemimpin komune yang menang perang berubah menjadi tuan budak. Peperangan antar komune yang semakin marak terjadi, mendorong adanya perubahan jaman dari komunal primitif menjadi jaman perbudakan. Dalam fase ini, perempuan tidak lagi mendominasi dan memimpin dalam komune. Sebagian besar dari mereka berada dalam klas budak yang tidak memiliki hak apapun atas dirinya sendiri yang itu artinya perempuan setara dengan barang.
Penindasan terhadap perempuan, dapat dilihat pada aspek memposisikan perempuan sebagai barang milik pribadi. Ini bisa dilihat ketika kepala komune memposisikan perempuan sebagai milik pribadinya, ”kamu tidak boleh berhubungan seks dengan orang lain selain saya, namun saya bisa saja berhubungan seks dengan semua budak perempuan yang saya miliki”. Praktek inilah yang mengilhami terjadinya keluarga monogami ataupun poligami yang bergaris keturunan laki-laki (patrilineal). Selain dimiliki untuk memuaskan hasrat seks tuan budak, perempuan juga diberi beban pekerjaan untuk mengolah pertanian, peternakan dan meramu makanan. Akan tetapi para budak tersebut (yang sebagian besar adalah perempuan), tidak memiliki hak apapun atas dirinya sendiri, dan bahkan tidak setiap hari mendapatkan makanan.
Penindasan budak oleh tuan (pemilik) budak ini yang mengilhami perlawanan budak kepada tuan budak dan menuntut pembebasan. Meningkatnya perlawanan budak, membuat tuan budak terpaksa memerdekakan budak-budaknya dan merubah klas budak menjadi tani hamba. Sedangkan tuan budak, karena kini hanya memiliki tanah sebagai harta pribadinya; maka berubah menjadi tuan (pemilik) tanah.
Akan tetapi, tuan-tuan tanah ini tentu saja tidak ingin kehilangan 100% tenaga kerjanya selama ini. Maka, diciptakanlah budaya patriarkhi. Perempuan dibebaskan secara relatif dengan membatasi ruang gerak perempuan serta menciptakan opini mengenai watak dasar perempuan. Budaya patriarkhi mengidentikkan perempuan sebagai manusia yang lembut, santun, lemah gemulai, dan hanya boleh bekerja dalam lingkungan terbatas. Fase feodal ini memang sengaja memposisikan perempuan lebih rendah dari laki-laki demi kepentingan untuk menundukkan tani hamba yang memang mayoritas adalah perempuan.
Kedatangan bangsa asing ke Indonesia yang melakukan kolonialisme terhadap Indonesia, tidak pernah menghancurkan sistem feodalisme dalam masyarakat. Mereka justru menjadikannya sebagai basis sosialnya dalam melakukan penjajahan terhadap rakyat Indonesia. Sebab, mereka membutuhkan keberadaan tuan-tuan tanah tersebut untuk pendirian perkebunan luas sebagai jaminan suplai bahan mentah bagi industri di negara mereka. Mereka juga membutuhkan tenaga kerja murah agar dapat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, dan industri rakitan di dalam negeri Indonesia sebagai pasar bagi hasil produksi industri mereka serta konsumen atas barang dagangannya. Kolonialisme juga memanfaatkan budaya patriarkhi untuk mengkebiri perempuan Indonesia.
Dalam fase-fase selanjutnya, ketika Indonesia telah merdeka sekalipun, penindasan tersebut masih terus berlangsung. Hal ini karena kemerdekaan bangsa Indonesia telah dihianati oleh Perjanjian Damai Konferensi Meja Bundar yang menjadikan Indonesia sebagai negara setengah jajahan dan tetap menggunakan feodalisme sebagai basis sosialnya. Revolusi Hijau yang digencarkan Orde Baru tidak membongkar hubungan produksi feodalistik yang menjadi penyangga budaya patriarkhi. Akibatnya, kaum perempuan menjadi kalangan yang menanggung beban paling berat. Partisipasi perempuan dalam proses produksi pertanian di pedesaan semakin hilang, dan pergilah mereka bermigrasi ke kota atau luar negeri untuk mencari sumber penghidupan bagi mereka dan keluarganya.
![]() |
| Buku'ng Labu, Foto Laman Tembawang |
Situasi internasional saat ini ditandai oleh menajamnya krisis ekonomi di negeri-negeri imperialisme, sangat berpengaruh terhadap situasi ekonomi seluruh dunia. Over produksi barang-barang teknologi tinggi dan over produksi di bidang persenjataan utamanya di negeri-negeri imperialisme pimpinan AS yang telah berlangsung semakin bertambah hebat ketika pada saat yang bersamaan, imperialisme AS dilanda krisis keuangan dengan meluasnya gejolak jatuhnya pasar saham pada sejumlah perusahaan milik kaum imperialisme, seperti Dow Jones, Nasdaq, dll. Akibatnya, secara keseluruhan perkembangan ekonomi AS jauh menurun bila dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.
Krisis keuangan global ini, telah memukul sendi-sendi perekonomian yang kemudian memasuki semua sendi kehidupan serta diperkirakan. Maka dapat dipastikan bahwa sistuasi tersebut akan semakin memerosotkan kualitas kehidupan seluruh klas, golongan dan rakyat tertindas lainnya di berbagai negeri termasuk Indonesia yang selalu mengabdikan dirinya pada Imperialisme dengan berbasiskan monopoli tanah.
Pemerintah Indonesia sendiri dalam perkembangannya untuk menghadapi krisis telah mengeluarkan serangkaian paket kebijakan yang dianggap tidak akan mampu mencegah krisis yang kemudian malah bertambah parah, dan menyebar ke berbagai sektor. Kenyataannya berbagai kebijakan yang di keluarkan oleh rejim yang berkuasa tidaklah memberikan keuntungan apapun bagi rakyat, bahkan sebaliknya membawa kerugian bagi rakyat. Hal ini tidak terlepas dari kepentingan Tuan Imperialisme sebagai kekuasaan tertinggi dari kapitalisme monopoli dan mereka sebagai kaki tangannya..
Program yang dikeluarkan adalah Tripel Track yaitu Pro Growth, Pro Employment dan Pro Poor. Progam inilah dalam perspektif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi rakyat. Pro Growth pro terhadap pertumbuhan melalui pembangunan, pertanian dan segala sumber komoditi pasar dunia yang akan melakukan pembukaan Hutan, Perkebunan, dan Pertanian yang seluas-luasnya. Pro Employment pro terhadap tenaga kerja dan Pro Poor pro terhadap kemiskinan. Dengan watak yang bergantung terhadap Modal Asing (kapitalisme monopoli) tentu program ini akan membuka peluang Investasi yang sebesar-besarnya. Maka, dapat dipastikan bahwa perampasan atas Tanah Rakyat akan semakin bertambah dan meluas. Dapat kita lihat sampai hari ini masih terjadi bahkan sangat marak kasus PHK yang dialami buruh Indonesia.
Pengganguran dan jutaan orang lainnya yang kehilangan pekerjaan, dari waktu ke waktu semakin mengalami peningkatan. Selain itu, sumber daya alam dikoyak-koyak melalui serangkaian operasi perusahaan-perusahaan milik imperialisme hingga menimbulkan kerusakan lingkungan pada derajat yang sudah sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup umat manusia bahkan telah mengancam jaminan hidup bagi generasi ke depan. Pamanasan global dan perubahan iklim yang tidak menentu yang menimbulkan berbagai bencana, seperti banjir, longsor, angin topan, kekeringan, badai salju dan lain-lain terus mengancam seluruh rakyat.
Demikian juga dengan kaum tani, harus menghadapi perampasan-prampasan tanah akibat ulah korporasi monopoli Internasional yang tiada henti melakukan praktek-praktek monopoli atas sumber-sumber agraria. Pertanian perseorangan skala kecil untuk subsisten farming didesak oleh pertanian skala besar (perkebunan) bagi tanaman-tanaman pasar, seperti karet dan sawit. Pertanian dan pedesaan pada umunya tidak mengalami kemajuan yang berarti, justru semakin jatuh dalam keterbelakangan secara ekonomi, politik maupun budaya.
Keadaan Konkrit di Kalimantan Barat, dimana Perusahaan Skala Besar Melanggar HAM. PT. Benua Indah Group (BIG) dalam membangun Perkebunan Kelapa Sawit di wilayah Kecamatan Sungai Melayu Rayak, Pemahan, Tumbang Titi, Nanga Tayap, Singkup, Marau dan Kendawangan Kabupaten Ketapang dengan membagi urusan manajemennya kedalam 4 anak perusahaannya yakni PT. Antar Mustika Segara (AMS) dengan luas SHGU No. 1 seluas ± 2.230 Ha; PT. Duta Sumber Nabati (DSN) Sebidang tanah SHGU No. 2 seluas ± 3.087 Ha; PT. Bangun Maya Indah (BMI) SHGU No. 1 seluas ± 4.034 Ha, dan; PT. Subur Ladang Andalas (SLA) Sebidang tanah SHGU No. 1 seluas ± 4.397,68 Ha. Keempat perusaah yang bernaung kedalam PT. Benua Indah Group mulai membangun Perkebunan Kelapa Sawit.
Sosialisasi pada saat penyuluhan bahwa sesampai dilokasi Transmigrasi langsung mendapatkan Rumah beserta pekarangannya seluas 0,25 Ha dan 1 Kapling (2 Ha) Kebun Sawit serta jatah hidup selama 2 tahun, tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena sesampai dilokasi transmigrasi pada tahun 1990 – an yang berada disekitar konsesi PT. BIG masih berupa hutan belantara. Masyarakat yang sudah turun temurun menempati wilayah tersebut, dipaksa untuk menyerahkan tanah dan meninggalkan kampungnya.
Namun pada saat beroperasi, mulai dari Desember 2008 PT. BIG dalam pembayaran TBS Petani Plasma tidak dipenuhi secara total. TBS Petani tetap saja diolah, dan CPO (Crude Palm Oil) tetap dijual tahap selanjutnya sampailah pada bulan Maret 2009 PT. BIG tidak memenuhi haknya para petani yang kemudian harus memenuhi kebutuhan hidupnya , rumah tangganya, pendidikan anaknya, dan lain sebagainya. Ini yang merupakan pelanggaran HAM yang paling besar, menyangkut pemenuhan kebutuhan hidup manusia dalam hal ini para petani plasma yang TBS mereka tidak dibayar oleh perusahaan PT. BIG. Satu sisi mereka telah dirampas haknya atas Tanah, sisi lain mereka dirampas atas upah dan kerja. Hal ini yang membuat para petani harus menuntut hak-hak demokratisnya.
Dengan keadaan Petani Kelapa Sawit semakin terpuruk, PT. BIG hanya mengobral janji – janji dan aparat Pemerintah yang ditemui seakan lepas dari tanggung jawab. Maka, pada tanggal 24 Maret 2009 petani dari Kecamatan Sungai Melayu Rayak, Pemahan, Tumbang Titi, Nanga Tayap, Singkup, Marau dan Kendawangan Kabupaten Ketapang berbondong – bondong mendatangi Gedung DPRD Kabupaten Ketapang untuk mengadukan masalah tersebut dan harapan ada solusi dari pemerintahan terkait. Petani bertekad tidak akan pulang jika TBS yang sudah dipanen dan diserahkan selama 4 bulan ( Desember 2008 – Maret 2009) tidak dibayar oleh PT. BIG.
Selama menduduki Gedung DPRD Kabupaten Ketapang, petani sangat kecewa karena tidak ada satupun anggota DPRD Kabupaten Ketapang yang berada ditempat, semuanya sedang melakukan Kampanye. Baru sorenya Wakil Ketua DPRD Yohanes Supardjiman didampingi Sekretariat Dewan, bersama dengan Kepala Kepolisian Resor Ketapang Ajun Komisaris Besar Polisi Karyoto serta Wakil Kepala Kepolisian Resor Ketapang Komisaris Polisi Denny Y Putro, menerima massa aksi.
Dalam pertemuan tersebut dilakukan secara tertutup dan terjadi perdebatan yang sangat alot, akhirnya disepakati malam tanggal 24 Maret 2009 Perwakilan Petani, bersama dengan Wakil Ketua DPRD bertemu dengan Bupati Kabupaten Ketapang Morkes Effendi. Hasil dari pertemuan tersebut, Bupati Ketapang mengeluarkan surat dengan nomor 188.342/0808/HK-A pada 27 Maret yang isinya Bupati beserta jajaran MUSPIDA di Kabupaten Ketapang meminta agar diberikan persetujuan sementara waktu, untuk mengalihkan penjualan serta pengolahan tandan buah segar (TBS) para petani, ke perusahaan-perusahaan terdekat.
Disamping itu, dalam pertemuan tersebut memutuskan ketemu langsung dengan Pemilik PT. BIG (Budiono Tan) yang akan dilakukan pada tanggal 28 Maret 2009 di Hotel Kapuas Palace Pontianak, Rombongan tersebut terdiri dari unsur Perwakilan Petani, DPRD Kabupaten Ketapang, Wakil Bupati Kabupaten Ketapang yang dipimpin secara langsung oleh Bupati Ketapang H. Morkes Effendi. Rombongan gagal, tidak membuahkan hasil apa – apa. Karena Bos PT. Benua Indah Group, Budiono Tan tidak datang ketempat perundingan yang sudah disepakati.
Setelah terjadi kericuhan antara Petani dengan Pemerintah Kabupaten Ketapang beserta Aparat Kepolisian, serta terjadi kesalah pahaman antar Petani itu sendiri. Kemudian Petani melakukan Musyawarah terbuka untuk menentukan langkah perjuangan kedepannya pada tanggal 30 Maret 2009 di Ruang Rapat Paripurna Gedung DPRD Kabupaten Ketapang. Hasil rapat umum tersebut memutuskan Petani tetap bertahan di Gedung DPR D Ketapang dan Perwakilan dari 26 desa dari 7 Kecamatan sekitar PT. BIG melakukan pertemuan dengan Pemilik PT. BIG di Jakarta yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Ketapang.
Kemudian tanggal 31 Maret dan 1 April 2009 Rombongan secara bergelombang Delegasi Perwakilan Petani yang didampingi Pemerintah Kabupaten Ketapang pergi ke Jakarta untuk melakukan Pertemuan dengan Budiono Tan dikantor Pusat PT. BIG. Pertemuan di Jakarta berlangsung alot dan panas karena pihak PT. BIG berusaha menghindar dari tanggung jawabnya membayarkan TBS hasil Petani dengan alasan tidak cukup uangnya. Alasan ini dibantah oleh Petani, karena selama ini pabrik tetap operasional dan PT. BIG tetap menjual Crude Palm Oil (CPO) hasil olahannya. Setelah terjadi perdebatan yang panjang kemudian pihak PT. BIG berjanji membayar TBS petani namun cuman 1 bulan saja itupun tidak semuanya karena pihak PT. BIG bisa mengusahakan uang cuman Rp. 10 Milyar padahal untuk membayarkan total satu bulan kurang lebih harus menyediakan uang Rp. 13 Milyar, sedangkan sisanya akan dibayarkan selanjutnya.
Walaupun hasilnya tidak sesuai dengan mandate yang diberikan akhirnya Rombongan dengan perasaan yang kecewa memutuskan pulang ke Ketapang Propinsi Kalimantan Barat. Selanjutnya, Perwakilan dari Petani dan PemKab Ketapang menjelaskan kepetani yang masih setia menunggu di Gedung DPRD. Mendengar informasi dari delegasi kurang lebih 1.200 orang perwakilan dari 26 Desa di 7 Kecamatan kecewa atas hasil delegasi yang ke Jakarta. Namun demekian setelah dijelaskan dengan baik, terutama alasan Ketertiban dan Keamanan karena PEMILU 2009 tinggal 4 hari lagi, maka dengan perasaan kecewa menerima hasil dari negosiasi di Jakarta tersebut.
Tahap selanjutnya para Petani pada bulan November 2009 kembali mendatangi DPRD Kabupaten Ketapang atas persoalan pembayaran TBS yang belum dipenuhi oleh PT. BIG. Mereka minta supaya mereka mendapatkan solusi yang baik namun hingga saat ini perusahaan masih nunggak 2 bulan senilai 40 Miliar (Pontianak Post, 16 November 2009)
Dengan tendensi fasis yang dilakukan jelas ini adalah bentuk dari Pelanggaran HAM. Disamping kasus keterlambatan pembayaran TBS petani plasma PT BIG, kasus penggusuran lahan (wilayah adat) di Kampung Silat Hulu Desa Bantan Sari, Kec. Marau Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat Oleh PT Bangun Nusa Mandiri (Sinar Mas Group) terhadap Tanah Rakyat juga kemudian berujung dengan dikriminaslisasikannya masyarakat. Selain itu, berbagai tindak represifitas aparat keamanan terhadap petani juga tejadi dibeberapa tempat seperti kasus kriminalisasi terhadap petani PT. Ware Singkawang, masih ditahannya petani di Desa Semunying Jaya akibat menolak ekspansi perkebunan skala besar PT Ledo Lestari (Duta Palma Group). Hal ini menjelaskan bahwa demokrasi yang ada di Indonesia pada hakekatnya adalah demokrasi yang hanya diperuntukan bagi keuntungan klas penguasa yang terdiri dari kapitalisme birokrat, tuan tanah dan para borjuasi besar komprador. tidak ada satu pun celah bagi rakyat untuk menikmati iklim kebebasan demokratis yang ada.
Melihat kenyataan diatas, jelaslah bahwa Indonesia pada umumnya, dan Kalimantan Barat secara khusus yang dipimpin oleh rejim boneka imperialisme paling setia menggunakan cara apapun untuk melanggengkan kepentingan imperialisme di Indonesia termasuk dengan menindas rakyat. Dengan tetap konsisten pada pendirian reaksionernya, yaitu memoles negeri ini sedemikian rupa demi mendatangkan modal asing sebasar-besarnya. Pemerintah akan menjamin keuntungan dan keamanan modal-modal asing di dalam negeri dengan membuat kebijakan kebijakan anti-nasionalisasi, anti-landreform, anti-mogok, anti-serikat buruh dan anti-terhadap gerakan demokratis yang menghambat investasi asing.













