| Foto Bersama, Mas Yudi (Kiri) dan Kang Hendrik (Kanan) |
Menulis itu bukan sekedar tuntutan, juga bukan karena mau pamer atas apa yang kita miliki. Tapi menulis adalah jiwa yang tidak pernah akan habis-habisnya sampai waktu ini juga berhenti. Menulis itu juga bukan sekedar hoby tapi menulis itu sebuah kebutuhan agar semua unek-unek kita itu tersalurkan, tertumpahkan dan terdokumentasikan dengan baik.
Walaupun tengah malam, saya ingin berbagi seputar pengalaman yang sebetulnya sudah jelang berapa waktu yang lalu. Tujuannya sebenarnya supaya ini mudah dan selalu diingat, karena kalau sudah kita upload di internet pasti tidak akan terhapus. Kita manfaatkan saja fasilitas yang ada ini, dari pada terbuang begitu saja.
| Kebun Sawit Kang Hendrik |
Perjalanan ini selain untuk belajar, juga menemani dua orang teman yang datangnya dari pulau yang cukup jauh. Mereka adalah Dr. Laksmi Adriani Savitri, M.Si seorang Dosen ahli antropologi di Universitas Gajah Mada (UGM) dan Mas Yudi tidak tahu betul nama lengkapnya seorang mahasiswa S2 di Sanata Darma. Sampainya di Sungai Besar karena bertanya-tanya sama orang-orang di daerah tersebut, rumah Kang Hendrik akhirnya ketemu.
Kang Hendrik ini adalah transmigrasi dari Jawa Barat, tepatnya di Cianjur kebetulan satu daerah dengan Dr. Laksmi Adriani Savitri, M.Si. Sampai di rumah Kang Hendrik, kita betul-betul dijamu dengan luar biasa baiknya, baik makan dengan segala hidangannya maupun minum-minumannya. Sekali ditanya kenapa nomor hp Kang Hendrik tidak aktif, ternyata sekali di cek emang nomornya salah. Membuat kita yang ada dalam rumah tersebut pada ngakak.
| Kebun Sayur Kang Hendrik |
Di Sungai Besar tersebut tidak tinggal diam karena diberikan lokasi sekitar 2 ha oleh Pemda Kabupaten Ketapang. 1 Ha ditanami oleh Kang Hendrik Sawit, dan 1 ha nya lagi ditanami sayur-sayuran. Di tempat ini potensi yang utamanya lahan, jadi itu modal utama yang dimiliki oleh masyarakat yang ada. Tinggal maunya kita, ini akan diolah untuk menanam apa saja dan bisa menghasilkan uang, kata Kang Hendrik.
Sementara menuggu sawit yang ada sampai masa panennya, Kang Hendrik mengolah tanah-tanah yang ada dengan aneka sayuran-sayuran, dan juga membuat pembibitan sawit di pekarangan rumahnya. Bibit sawit tersebut apabila ada yang mesan diperjual belikan oleh Kang Hendrik, dan merupakan bibit yang ada sertifikat karena didatangkan dari Medan. Oleh karena sawit yang ditanam tersebut milik pribadi, apabila dipanen nantinya cukup untuk kebutuhan hidup ukuran keluarga kecil-kecilan, kata Kang Hendrik.
Sebenarnya Petani di Indonesi ini bisa kaya, dengan catatan lahan-lahan yang ada perkebunan kelapa sawit dan lain sebagainya itu tidak dikuasai. Ketika Petani yang memiliki lahan tersebut dan memproduksi hasil dari lahan itu, sudah pasti makmur hidupnya. Perusahaan cukup dengan mengolah hasil dari produksinya saja, sambung Dr Laksmi Adriani Savitri, M.Si.
Tapi intinya, kita yang masih punya lahan sebaiknya dipertahankan dengan sebaik-baiknya. Karena, itulah modal utama bagi para Petani agar bisa berlangsung secara terus-menerus. Satu sampai dua hektar pun apabila itu milik kita sendiri, ketika sudah menghasilkan juga untuk diri kita sendiri. Contoh, seperti yang Kang Hendrik lakukan. Dengan segala potensi yang kita miliki, yakinlah bahwa kita bisa mendapatkan yang kita inginkan dikemudian hari. Semua itu, asal kita tekun melakukannya dan terus belajar dengan giat, alhasil kita akan memetiknya.
![]() |
| Lokasi Lahan Sawit di Daerah Kendawangan |
Kami bisa memukul gendang dan gamelan
Kami bisa meracik reramuan tanda penghormatan
Kami bisa memberikan polesan tanaman-tanaman lokal
Membuat segalanya terasa indah
Seindah Putri dari kayangan,
Lebih indah dari petikan gitar dan piano
Juga sepucuk tumbuhan yang tak berkawan
Keindahan itu telah sirna
Sirna ditelan tangan dan kaki besi
Tangan kotor tapi tanpa rasa malu
Membersihkan dan menghilangkan jejak ini
Kami dibuatnya tak berdaya
Tak berdaya dirumah kami sendiri
Sebab ada para mesin-mesin bersenjata
Membuat kami seperti para tawanan
Tawanan dari tuan mereka
Tuan yang pernah memberikan janji
Janji yang penuh dengan misteri
Janji yang malah mencoba mengusir kami
Membuat kami menjadi hamba
Hamba yang tak berdaya
Hamba yang menjadi peminta-minta
Hamba yang tak dipedulikan Tuannya
![]() |
| Rumah Pertemuan Bina Utama Payak Kumang |
Maka, masih menyisakan kepemilikan tersebut dalam sistem pengelolaan Tembawang Masyarakat Suku Dayak umumya. Hal ini mengartikan bahwa tempatnya yang ada tembawang tersebut adalah sebagai situs terakhir Suku Dayak umumnya. Karena, di tempat yang ada Tembawang tersebut pernah hidup sekelompok manusia dalam rumah betang ataupun kampung lama dulunya. Tembawang ini yang menjadi kepemilakan bersama oleh kelompok masyarakat. Kemudian, ketika itu dijual atau ditukar dengan barang lainnya menjadikan ini milik individu tertentu.
Berangsur-berangsur konsep yang ada seperti ini semakin hilang, dari rumah betang yang manusianya masih hidup berkelompok sampai pada bangunan-bangunan individu ataupun kepemilikan perorangan yang ada sampai sekarang. Disini mulai ada pengikisan kebersamaan yang dibangun oleh masyarakat yang ada di sekitar ataupun di lingkungannya terlepas sudah tidak hidup dirumah betang lagi seperti dulu kala.
Dulu, sekitar 20 tahun kebelakang kolektifitas seperti ini masih bisa terlihat antar warga satu sama dengan yang lainnya. Semisal, ketika tidak ada Cabai ataupun barang makanan lainnya kita boleh ngambil atau minta ditempat orang yang lainnya tanpa harus membayar sepeserpun. Hal ini terjadi secara bergulir, ketika orang lain tidak punya dan yang satunya punya maka saling berbagi satu sama dengan yang lainnya. Kalau misalnya ada yang dapat Lauk hasil buruan, yang lainya dapat bagian juga.
Jadi, yang perlu dipertahankan dan dijaga sekarang adalah situs terakhir (Tembawang) yang dimiliki oleh Suku Dayak tersebut. Karena, kalaulah situs terakhir ini sudah tidak ada lagi atau hilang maka identitas masyarakat akan lenyap. Kehidupan Sosial, Budaya bahkan Ekonomi yang terkandung di dalam Tembawang tersebut juga akan hilang. Maka, perlu untuk dipertahankan sistem Tembawang Masyarakat ini. Semoga sekelumit tulisan ini memberikan sumbangan serta manfaat bagi kehidupan manusia yang ada di Negeri ini.
![]() |
| Dok Foto Laman Tembawang, Topeng Buku'ng Mangar |
Topeng "Buku'ng" ini adalah topeng yang merupakn bentuk budaya masyarakat. Topeng Buku''ng ini dimiliki oleh Suku Dayak Krio khususnya di Desa Benua Krio Dusun Sepanggang. Keberadaan Suku Dayak Krio tersebar di Kecamatan Hulu Sungai Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Pada umumnya, apabila ada kematian salah satu tokoh atau orang yang diagungkan di adakan budaya Bebuku'ng. Buku'kng ini dipakai dalam jumlah tertentu saja, yakni dengan angka ganjil dari 3, 5 sampai dengan 7. Semakin banyak jumlah topengnya semakin besar adat istiadat yang harus dipenuhi dalam melaksanakan ritual budaya ini.
Adapaun topeng-topeng ini juga tidak memakai kayu-kayu sembarangan, ada kayu hutan yakni Plai, pelepah Kelapa, dan dari Labu Air. Makanya, tanaman Plai dan kelapa itu bagi suku Dayak Krio tidak boleh ditebang sembarangan. Buku'ng yang memakai Plai disebut Buku'ng Kepala, yang pakai pelepah kelapa Buku'ng Tengah dan dari Labu Air sebagai Buku'ng yang Bungsu.Apabila Buku'ng yang dipakai dalam jumlah 3 saja masing-masing satu dari tanaman-tanaman tersebut, kalau 5 jumlah Plai nya dua dan Pelepah Kelapanya dua, dan Labu airny satu. Dan, kalau jumlah Buku'ngnya 7 Plai dan Pelepah kelapa masing-masing 3 sedangkan Labu Air tetap satu. Dalam acara budaya Bebuku'ng ini bukan hanya ritual topeng saja, ini bentuk dari kolektifitas masyarakat yang begitu besar.
![]() |
Untuk mengiringi manusia bertopeng "Buku'ng" ini juga ada gamelan khusus yang disebut oleh Dayak Krio dengan Betipak. Saat manusia memasang topeng ini, sebelum turun untuk cari berbagai jenis makan yang diperlukan seperti tersebut di atas, dia harus mengelilingi mayat yang ada dirumah terlebih dahulu.
Dan, ketika seseorang sedang memasang topeng ini tidak boleh disebutkan namanya walaupun kita mengenalnya, karena pernah dialami terdahulu topeng ini tidak bisa dilepas sehingga manusia bertopeng ini harus hidup di hutan dan menjadi penunggu gunung serta bukit. Sekian informasi sekilas manusia bertopeng atau yang di sebut Buku'ng ini oleh Dayak Krio. Semoga ini bisa menjadi referensi untuk anak cucu dikemudian hari tentang kebudayaan Dayak Krio. Serta semua orang yang mau mengetahui Kebudayaan tersebut. Terima kasih! (Penulis : Nikasius Meki).
Foto Nikasius Meki, Sebelum bertopeng.
Foto Nikasius Meki, Sesudah Bertopeng
| Foto dalaman Gereja Katedral Ketapang |
Petikan gitar, biola, dentingan piano pada hari ini sangat berbeda dari sebelumnya. Sangat dirasakan khas budaya jawa dalam alunan musik yang dibawakawan. Sedikit agak lucu kedengarannya, bacaan-bacaan yang juga dibawakan dalam logat jawa karena orang jawa yang membacakannya. Sampai pastor yang memimpin misa pada hari ini juga pastor dari jawa yang berasal dari Klaten.
Di Ketapang, Kalimantan Barat, secara khusus di Gereja Katedral Santa Gema, selang-selang waktu tertentu petugas-petugas koor, lektor, petugas persembahan, dan lainnya memang menggunakan inkulturasi tertentu dalam melaksanakan misa seperti Batak, Cina, Dayak, dan lainnya. Unik, di Ketapang suku-suku yang ada berbeda-beda corak budayanya tapi untuk perselisihan antar suku, tidak!!!.
Kita semua di Ketapang ini, tidak menginginkan perselisihan yang demikian. Duhulu sebelumnya, antar suku di Ketapang ini juga berjanji dengan upacara tolak bala yang dilakukan. Untuk menolak segala macam perselisihan antar suku yang ada di Kabupaten Ketapang ini. Kalau terjadi! Apabila suku apapun yang memulai hal tersebut akan dikenakan sanksi. Itu adalah komitmen semua suku yang ada di Kabupaten Ketapang ini.
Ya, semoga hal itu tidak akan terjadi sampai kemudian hari nanti. Dan, ternyata dibalik perbedaan yang ada ini ada keindahan yang kita rasakan. Sebelumnya, kita tidak tahu bagaimana Kultur Suku Batak menjadi tahu, begitu juga suku-suku yang lainnya. Atas perbedaan inilah, kita harus saling menghargai keluarbiasaan yang dimiliki daerah kita ini. Kalau bisa kita jaga dengan baik, begitu banyak manfaat yang dapat kita rasakan.
![]() |
| Dialog dengan Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang |
Hingga, pada tanggal 14 November 2013 Perkumpulan SAMPAN Kalimantan Perwakilan Ketapang melakukan Hearing menuju Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang. Dan, Pemerintah Daerah Kabupaten Ketapang yang dalam hal ini diwakilkan melalui Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang menyambut dengan baik. Bahkan, mereka mendukung apa yang telah dilakukan oleh Perkumpulan SAMPAN Perwakilan Ketapang dengan Masyarakat Hukum Adat tersebut. Pertimbangannya, agar adanya tata kelola hutan dan lahan yang adil lestari dan Berkelanjutan yang ada di Kabupaten Ketapang ini.
Jumlah luasan perijinan yang ada tersebut akan menimbulkan berbagai dampak,
terutama dampak sosial karena tidak adanya perimbangan keadilan atas hak kelola
bagi masyarakat hukum adat. Oleh karenanya, pengakuan hak milik masyarakat
hukum adat atas hutan dan lahan serta kekayaan alamnya melalui kebijakan daerah
adalah suatu keharusan. Karena realitas obyektif membuktikan masyarakat hukum
adat sudah teruji didalam mengelola hutan dan lahan untuk pemenuhan hidup dan
penghidupannya secara adil dan lestari.
Pengakuan
pemerintah daerah dalam bentuk kebijakan terhadap hak kelola masyarakat hukum adat
searah dengan UUD 1945, Undang Undang Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960, dan UU
No. 41 Tentang Kehutanan serta Deklarasi PBB Tentang Masyarakat Hukum Adat.
Pengakuan dalam bentuk kebijakan daerah akan memberikan jaminan atas wilayah
kelola masyarakat hukum adat.
Pedoman yang sejalan untuk melahirkan kebijakan daerah
atas hak milik masyarakat hukum adat merujuk pada Putusan Makamah Konstitusi
Nomor 35/PUU-X/2012 Tanggal 16 Mei 2013
Tentang Hutan Adat yang diperkuat dengan Surat Edaran Menteri Kehutanan Republik
Indonesia No SE. 1/Menhut-II/2013 Tentang Putusan Makamah Nomor 35/PUU-X/2012
Tanggal 16 Mei 2013.
Lahirnya kebijakan daerah akan menjadi payung hukum bagi
masyarakat hukum adat dalam pengelolaan hutan dan lahan. Selain itu, lahirnya
kebijakan daerah akan dapat membantu pelaku usaha dalam jaminan kepastian hukum
di wilayah konsesinya. Hal tersebut juga dimaksudkan untuk menghindari konflik
sosial dan konflik ekologi sebagaimana yang sering terjadi selama ini. Dengan
adanya kepastian hukum bagi dunia usaha maka stabilitas dalam mengembangkan
usahanya dapat tercapai demikaian juga sebaliknya dengan Masyarakat Hukum Adat. #Nikasius Meki - PO SAMPAN Ketapang
| Foto Lord Revlo Kyanaseta |
Tiap saat dia selalu ingin diputarkan atau dinyanyikan musik/gamelan tangdejang tersebut. Takala sedang memegang handphone dan atau laptop. Biar dia bisa menari dengan kelentikan tangannya dan gemulai tubuhnya walaupun terhitung masih anak-anak sekali. Sangat pandainya dia berputar, kaki senada dengan musik, tangan diputar sedemikian rupa dan tubuh diputarkan sesuai dengan kreasinya. Dan, sampai saat ini anak ini setiap ada acara perkawinan di kampung tidak ketinggalan menari-nari dengan tangannya yang lemah gemulai.
Bapak merasa bangga mempunyai Putra
sepertimu Lord Revlo Kynaseta, oleh sebab itu ini Bapak tuangkan dalam bentuk
tulisan ini agar bisa menjadi kenang-kenangan sampai dirimu besar nanti.
Hebatnya juga anak ini tidak pernah mau ketinggalan kala terkait dengan hal-hal
yang orang lain lakukan dan orangnya tahan banting. Orang begamal dia juga mau
melakukannya, tapi sembarang pukulah. Begitu juga dengan aktifitas lainnya,
Sampai-sampai Mamanya yang bernama Bernadetha Esti Lestari itu kadang merasa
terusik kala anak itu usil terhadap pekerjaan-pekerjaannya. Cuma untuk terjatuh
ataupun terjungkal hal yang biasa bagi dia.
Sehingga, apabila jauh darinya
sangat terkenang sekali dengan kelakuan dan tindak tanduknya. Apalagi kala dia
bermanja pada kita, dipeluk, dicium dan macam-macam hal dia ngusik kita. Sekarang
dia sudah bisa makan sendiri, bermain sendiri, dan banyak hal yang dia lakukan
dengan kepandaian yang dia miliki. Ya, mudah-mudahan sampai kamu besar nanti
kamu menjadi orang yang bisa diharapkan oleh semua orang. Berbuat hal-hal yang
baik, bisa bermanfaat dan berguna bagi banyak orang. Semoga sekelumit tulisan papa ini
bermanfaat untukmu nantinya nak!!! Salam Sayang dari Papa mu: Nikasius Meki.
![]() |
| Jalan Menuju ke Daerah Tanjungpura Ketapang |
Walaupun demikian, karena merupakan
jalan pintas tetap berusaha kita tempuh. Dan, sambil melintas mempunyai
keinginan untuk mampir ke makan raja tanjungpura. Sampai ditempat tersebut, ada
seorang Ibu yang merupakan juru kunci makam yakni Buk Fardiah. Masuk ke makam
tersebut, beliaupun mulai bercerita ditunjukannya makam Raja Tanjungpura yang
bernama Sultan Muhhamad Jainudin Mursal, beliau adalah pemimpin (Raja) saat
Agama Islam masuk ke Ketapang. Penyebar agama islam pertama ketika itu adalah
Seykh Muhhamad Aminulah Al Maghribi dari Maroko, dan Imam Agung dari mekah ketika
itu.
Di lain tempat, ada tempat yang disebut dengan
tempat suci da bersih yang juga bagian dari kerajaan tanjungpura ketika itu
yakni Taman Suci Sapu Jagat. Tempat ini ada kolam kecil, dan air dikolam
tersebut biasa juga dimanfaatkan oleh warga setempat untuk diminum. Air ini
memang cukup aneh, karena walaupun kecil ukuran kolamnya walaupun kemarau
panjang tidak pernah kering. Dan, tempat tersebut tidak perlu dibersihkan
seperti makam raja tanjungpura karena tempat itu bersih dengan sendirinya,
adapun daun-daun dari pohon-pohon sekitar persis tidak pernah berguguran.
Air tersebut disebut warga air zam-zam
ke empat, makanya dari jaman kerajaan sampai saat ini menjadi tempat
orang-orang melakukan zikir, dsb. Pada saat jaman kerajaan si Raja setiap
jum’at sembahyang ketempat tersebut, yang menurut ceritanya itu merupakan jalan
menuju ke Mekah. Ditempat ini kala orang beruntung saat melakukan zikir, akan
melihat lobang yang kedalamnya ada tangga kecil terbuat dari emas terdiri dari
dua tingkat, tingkat terakhirnya ada jalan menuju goa namun goanya gelap dan
didepan goa tersebut ada orang yang memakai pakaian serba putih.
Nah, jalan tersebutlah yang dikatakan jalan
menuju mekah. Dan, orang yang sakti-mantraguna seperti raja dan yang lainnya
ketika itu setiap jumat tadinya sembahyang ke mekah dari jalan itu, dan ambil
air uduk di air kolam tadinya. Air tersebut memang sangat bersih kalau kita
ambil tidak ada kotoran sama sekali. Pernah dilakukan oleh salah seorang Putera
Ketapang bernama Hamzah Has (mantan wakil presiden), mengambil tersebut
dimasukan ke dalam botol. Dan, sampai dimekah dibandingkan dengan air zam-zam,
orang yang disana disuruh minum air yang dibawa dari Kalimantan tersebut, dan
beliau minum air zam-zam. Memang tidak ada perbedaan dari kejernihannya sampai
kerasanya, rasa air tersebut memang tidak sama seperti rasa air biasanya, lebih
punya ke khas an.
Tempat makam raja Tanjungpura ini memang
butuh perhatian, walau sudah pernah direnovasi bangunannya yang ada sekarang
sudah banyak yang rusak, tapi tetap terawat adanya. Tiap hari Ibu Fardiah yang
sekaligus juru kunci makam membersihkan tempat tersebut, hingga kalau kita
berkunjung hampir tidak ada sampah mulai dari pekarangannya sampai menuju ke
pemakamannya. Keluarga dari Ibu Fardiah tersebut, menurut ceritanya ketika
jaman kerajaan merupakan orang suruhan raja. Sehingga, lokasi sekitar pemakaman
tersebut disuruh keluarga dari pihak beliau mengelolanya dengan catatan tidak
boleh diperjual belikan.
Tidak terasa, karena asik mendengarkan
Ibu Fardiah bercerita sudah 1 jam duduk dipemakaman Raja Tanjungpura tersebut.
Sambil permisi, terus melanjutkan perjalanan bersejarah ini. Luar biasa bedanya
ketika keluar dari makam tersebut, hati terasa tenang dan damai sekali.
Sehingga, agar tidak terlupakan kenangan yang terindah ini bisa saya tulis
demikian adanya.








